Berdagang untuk Menyambung Hidup

Operasi Satpol PP di Semarang

Corat coretan kali ini berisi mengenai share pengalaman saya dalam konteks minoritas. yap, saya beberapa hari ini telah mengobservasi Pedagang Kaki Lima (PKL), setidaknya ada tiga pedagang yang diobservasi, yakni penjual nasi kucing, ketoprak dan cilok. Mereka rata-rata dalam sehari memperoleh keuntungan bersih sebesar seratus ribu rupiah, bahkan kerapkali memperoleh keuntungan bersih di bawah nominal itu, karena masih harus ‘berurusan’ dengan para petugas Satpol PP. Padahal PKL ini mengaku sudah membayar uang retribusi (dua ribu rupiah) setiap harinya ke petugas pemerintah/kelurahan, dan juga telah membayar uang dua juta rupiah dalam rentang waktu satu tahun ke pihak-pihak yang ‘mengaku’ sebagai petugas keamanan wilayah.

PKL merasa kecewa, dipermainkan dan juga seperti diperas terutama oleh pihak-pihak yang mengaku sebagai petugas keamanan wilayah, karena tidak membantu mereka ketika ada operasi Satpol PP. Begitupula kekecewaan terhadap para petugas kelurahan/kecamatan yang tidak menjelaskan ke aparat Satpol PP, bahwa mereka/PKL sebenarnya telah membayar uang retribusi, sehingga tidak asal mangkal untuk jualan. Mereka/PKL ini sejatinya hanya ingin jualan untuk menyambung hidup bagi dirinya, dan juga bagi keluarganya yang menunggu di kampung halaman.

Membantu Penjual Ketoprak

Meskipun usaha mereka selalu berada di bawah bayang-bayang operasi Satpol PP, namun ada satu hal yang mereka syukuri, yakni adanya rasa kebersamaaan dan solidaritas di antara para PKL. Mereka kerapkali berbagi informasi lewat media WhatsApp Group maupun sms, termasuk berbagi informasi seputar kegiatan operasi Satpol PP di daerah tertentu. Pada satu sisi, mereka menganggap kehadiran media WhatsApp dan sms ini setidaknya sedikit menciptakan kenyamanan atas kegiatan berjualan yang mereka lakukan, terutama mengenai keberadaan operasi Satpol PP di daerah tertentu, sehingga mereka bisa bersiap-siap untuk menutup lapak usahanya, sebelum datangnya petugas Satpol PP. Akan tetapi, pada sisi lain, adanya ironi dan empati bagi PKL yang tidak sempat menghindar dari ‘kejaran’ Satpol PP.

Media WhatsApp dan sms ini bisa dikatakan sebagai media alternatif, bila merujuk pada pemikirannya Chris Atton melalui karyanya yang berjudul Alternative Media. Media alternatif sendiri dapat dijabarkan sebagai media yang isinya terkesan lebih jujur dan apa adanya, serta menggambarkan kepentingan golongan/kelompok tertentu di luar arus utama, salah satunya ialah kepentingan dari para PKL ini. Menurut Enzensberger (dalam Atton), media dalam konteks minoritas bisa berarti apapun, bisa berarti video musik, pertunjukan seni, output penulisan kreatif dan lain-lain.

Lalu, ketika media mainstream (media elektonik, cetak maupun online) lebih sering memberitakan tentang kegiatan operasi Satpol PP atas lapak para pedagang, dengan dalih untuk menciptakan ketertiban dan kebersihan kota, tanpa memberi porsi berita yang seimbang atas dampak yang dirasakan PKL dari penggusuran tersebut, maka melalui media-media alternatif tersebut, suara minoritas bisa diupayakan untuk terdengar, setidaknya terdengar di antara sesama para PKL, dan juga sampai ke masyarakat pemerhati kelompok minoritas.

Untuk memahami suara/kepentingan kelompok minoritas pada umumnya dan kepentingan PKL pada khususnya, maka partisipasi dan interaksi dengan mereka sangat dibutuhkan, seperti yang disampaikan oleh Enzensberger bahwa partisipasi dan interaksi itu merupakan konsep kunci dalam memahami suatu komunitas, suatu kelompok kepentingan dan budaya tertentu. Saya sependapat dengan dengan pemikirannya Enzensberger.

yap, partisipasi dan interaksi atau mengobservasi sekaligus berusaha membantu aktivitas PKL dalam berdagang inilah yang saya lakukan selama beberapa hari terakhir. Saya berupaya merasakan bagaimana menjadi PKL; saya mencoba pula merasakan bagaimana pembeli ketoprak yang baru datang, tetapi tidak mau antri malah berpesan agar makanannya segera dibuatkan; serta saya juga mencoba merasakan dan berusaha membantu penjual kucingan, setelah mendapat informasi dari rekannya sesama PKL mengenai adanya operasi Satpol PP. Akhirnya, dengan mempelajari dan ikut berusaha merasakan menjadi bagian dari minoritas, semoga kita bisa menjadi individu yang dapat saling menghargai sesama manusia, meskipun berbeda latar belakang ras, agama, suku, golongan, sudut pandang politik, jenis kelamin dan sebagainya.

bahan bacaan:

Atton, Chris. (2006). Alternative Media. London: SAGE Publications Ltd.

5 thoughts on “Berdagang untuk Menyambung Hidup

  1. Berdagang dengan mengunakan media alternative ternyata jika tepat benar-benar keren ya meski tentu harus pakai modal juga untuk smartphone dan paket data

  2. Seriuslah mas yuli, hal yang pertama kulakukan : googling kucingan itu makanan kaya gimana? ternyata angkringan ya? hehe. Taunya nasi kucing, tapi ga ngeh sama kucingan.

    Saya mulai berpikir, agaknya persoalan PKL ini rumit juga ya. Sebagai konsumen, sebetulnya saya senang jajan pada abang-abang PKL. Namun terkadang sebagai pengguna jalan raya, keberadaan mereka cukup mengganggu jalanan. Memang harus ditertibkan ya, tapi ditertibkan dalam artian sebenarnya, difasilitasi untuk berdagang, bukan diusir dan tidak mau tahu solusinya seperti apa. Padahal benar kata mas yuli, dia berdagang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kemudian membahas media alternatif, jadi terpikir juga ya..para PKL ini seharusnya bisa diakomodir seperti go food nya gojek. Sehingga mereka bisa menyiapkan di rumah mereka masing-masing, tapi orderan tetap jalan, dan jalananpun tetap tertib. Hanya terpikir saja sih, sepertinya keren juga..

  3. Ini bener bener bikin saya terbelalak lagi…
    Banyak yg harus saya lihatdari orang lain untuk setidaknya mengubah dan memperbaiki pandangan saya…
    Makasih sharenya mas yuli

  4. Wah mas yuli, informasi yang banyak dari kita belum tahu ya, bahwa ternyata nyatanya mereka juga dikenakan biaya atau pajak berjualan bulanan bahkan tahunan. Dan media alternatif berperan dalam antisipasi atau sarana untuk melawan serta aturan-aturan yang sebenarnya jika dinalar hanya menguntungkan orang-orang atas atau kelompok domina (perangkat pemerintahan).

  5. wah keren yah Whatsapp Group bisa jadi media alternatif untuk memupuk solidaritas antar PKL. Sebenarnya kehadiran PKL itu sendiri tidak bisa disalahkan begitu saja. Kita sendiri sebagai masyarakat juga membutuhkan mereka kan. Kapan lagi coba, beli cilok langsung ke pinggir jalan aja. Beli batagor tinggal melipir ke trotoar depan kampus UI Salemba. Kita sendiri juga dimudahkan oleh mereka. Jadi tidak bisa menganggap bahwa PKL sepenuhnya salah….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *