Ini Jalan Kami

Saya menikah sejak tahun 2011. Istri bernama Anna Puji Lestari (Anna). Allah telah mengaruniai kami, dua orang putri. Melalui tulisan ini, saya mencoba untuk mengungkap kembali memori terkait dengan perjalanan pernikahan kami. Apalagi, menurut Foster (dalam Liam French, 2011) menyatakan bahwa dengan mengingat, hal ini menjadi penting bagi diri kita, sebab mengingat dapat memainkan peranan penting, yakni salah satunya sebagai pembelajaran (hidup). Saya sependapat dengan pemikirannya Foster.

Saya menikah tanpa melalui proses pacaran, silahkan Anda mempersepsikan apapun itu, namun inilah prinsip yang saya pegang sebelum menikah. Singkat cerita, saya bertemu dengan Anna. Saya waktu itu hanya mengetahui kalau dia itu seiman dan dari niatnya yang sama-sama ingin menyegerakan untuk menikah, sementara saya tidak mengetahui latar belakang keluarganya seperti apa. Saya meyakini janji Allah bahwa siapapun yang berusaha memperbaiki dirinya, maka akan berjodoh dengan orang yang baik pula. Saya akhirnya mengetahui lebih lanjut keluarganya, setelah menikah.

Istri saya berasal dari keluarga pengusaha roti, yang mana merk rotinya bisa dikatakan terkenal di Kota Pati (Jawa Tengah), sementara latar belakang keluarga saya yang hanya pensiunan pegawai golongan rendah. Pada awal pernikahan kami, saya dan istri saya beranggapan bahwa perbedaan status ekonomi kedua keluarga ini bukanlah suatu persoalan. Namun sejalannya dengan waktu, ternyata perbedaan tersebutlah yang menjadi akar dari permasalahan keluarga, seperti kekhawatiran yang pernah disampaikan oleh ibu ke saya, “bojomu soko keluarga wong duwe, sementara kowe soko keluarga wong ora duwe, opo kowe iso ngelakoni? (Istrimu dari keluarga ‘orang kaya’, sementara kamu dari keluarga kelas ekonomi bawah, apakah kamu bisa menjalani pernikahan ini?)

Pada awal pernikahan, saya tinggal di rumah mertua di Kota Pati. Kami tinggal di sana atas permintaan mertua, dan tinggal selama sekitar dua tahun. Selama tinggal di rumah mertua, saya seringkali diberitahu oleh istri, bahwa saya kerapkali dibanding-bandingkan oleh ibu mertua dengan menantu lainnya. Sekedar informasi saja, kalau istri merupakan anak keempat dari empat bersaudara, dan kakak-kakaknya juga telah menikah dengan mereka yang ‘dianggap’ mertua berasal dari latar belakang keluarga ‘berada’, salah satu menantu merupakan anaknya Lurah. Istri kerapkali menyampaikan pula ke saya, bahwa mertua sebenarnya menginginkan memiliki semua besan yang selevel dengannya, setidaknya secara status ekonomi maupun sosial. Jujur, saya merasa teropresi dengan keadaan tersebut. Saya merasa seperti orang asing ditengah-tengah keluarga besarnya istri, saya merasa seperti menantu yang ‘sebenarnya’ tidak diinginkan. Namun, satu hal yang patut saya syukuri, yakni istri tidak terpengaruh dengan perkataan ibunya, dan mencoba untuk memberikan dukungan ke saya.

Sementara itu, bila merujuk pada pemikirannya Liam French, apa yang kerapkali dilakukan/disampaikan oleh mertua ke istri, bisa dikatakan sebagai bentuk dari memori kolektif yang ingin terus dibagi, diteruskan dan dibangun dalam keluarganya, terkait harapan dan standar dari apa yang dianggap sebagai menantu ideal menurut versi mertua.

Meskipun mendapat dukungan dari istri, namun akhirnya kami sepakat untuk tidak lagi tinggal di rumah mertua. Kami memutuskan untuk pindah ke Semarang, apalagi lokasi rumahnya juga dekat dengan tempat saya bekerja (Universitas Semarang). Pada mulanya mertua melarang, tetapi selanjutnya memberikan ijin, namun dengan syarat harus mau dibelikan rumah dan dikasih fasilitas mobil oleh mertua. Kelihatannya secara sekilas seperti kisah yang manis, namun sebenarnya tidak. Kami tinggal di rumah yang dibelikan mertua, selama dua tahun. Selama dua tahun tersebut, mertua masih sering memberitahu istri, mengenai harapannya terkait sosok menantu dan besan yang ideal menurut versi mertua. Selain itu, mertua juga kerapkali ikut mengatur sampai ke hal-hal teknis kehidupan rumah tangga kami, sehingga membuat kami semakin merasa tidak nyaman. Puncak dari ketidaknyamanan tersebut terjadi pada sekitar akhir tahun 2015, di mana saya dituduh oleh mertua, telah mencuri uangnya. Waktu itu kami (saya dan istri) berniat untuk silahturahmi ke rumah mertua di Kota Pati.

Selama beberapa hari di sana, mertua berbicara ke saya dan istri, selama kami tinggal di Semarang, ibu mertua tidak pernah kehilangan uang, tetapi ketika kami datang berkunjung, mereka kehilangan uang. Kami sudah menjelaskan bahwa kami tidak mengambil uang tersebut, namun mertua terkesan tidak mempercayainya. Singkat cerita, uang tersebut ternyata diambil oleh kakaknya istri. Yang membuat kami kecewa dengan mertua, adalah tidak adanya penjelasan siapa sebenarnya yang mengambil uang tersebut (kami mengetahui yang mengambil uang tersebut malah dari pihak luar) dan tidak adanya permintaan maaf. Ucapan yang malah keluar dari mertua ke istri, ‘kowe opo iso urip, iso-iso dadi glandangan, nek ora tak ragati lan nek metu soko omah kuwi’ (kamu apa bisa menjalani hidup, malah mungkin jadi gelandangan, kalau tidak kami biayai hidupnya dan kalau keluar dari rumah pemberian mertua).

Sepulang dari Kota Pati, kami lalu berdiskusi mencari solusi agar intervensi dari mertua, tidak terjadi lagi. Kami memutuskan mulai awal tahun 2016, untuk mengembalikan semua fasilitas yang pernah diberikan oleh mertua. Rumah beserta sertifikatnya, mobil dan uang pemberian mertua, semuanya kami kembalikan ke mertua. Mertua awalnya menolak, tetapi akhirnya menerima materi-materi tersebut. Kami menceritakan pula segala hal yang pernah kami alami dan simpan ke ibu saya. Ibu hanya bisa pasrah dan menangis, serta mendoakan agar masalah yang terjadi bisa segera berakhir.

Iya, mulai awal tahun 2016, kami sudah tidak tinggal lagi di rumah pemberian mertua. Tujuan kami sederhana, kami hanya ingin mulai membangun harga diri dan ketenangan batin, meskipun dengan uang kami yang pas-pasan. Kami memutuskan untuk menge-kost dan mengontrak dari satu tempat ke tempat lain. Informasi keberadaan tempat kost dan kontrakan inipun, sengaja tidak kami informasikan ke mertua dan orangtua saya, karena alasannya tadi, kami ingin membangun ketenangan batin. Inilah jalan kami!, kami merasa lebih baik ngekost/ngontrak, dengan pikiran yang tenang, daripada tinggal di rumah dengan segala fasilitas yang diberikan mertua, tetapi penuh dengan intervensi.

Alhamdulillah, pada akhir tahun 2016, kami memberanikan diri untuk membeli rumah sederhana, dengan cara kredit, serta pada akhir tahun 2016 yang lalu, saya juga mendapatkan beasiswa BUDI DN (Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia Dalam Negeri) untuk bisa melanjutkan Studi S3.

Sementara itu, kami kecewa dengan informasi keagamaan di media (baik itu di media konvensional maupun di media digital) yang menurut pengamatan kami, lebih banyak porsinya memberikan saran mengenai bagaimana menjadi anak-anak yang berbakti kepada orangtua/mertua, namun sedikit porsinya yang menjelaskan mengenai bagaimana menjadi orangtua/mertua yang bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya, padahal terpaan media yang terus menerus bisa menginternalisasi pembaca/penonton/pendengarnya, untuk melakukan sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan oleh media. Akhir kata, saya mendoakan bagi siapapun yang membaca tulisan saya ini, semoga mempunyai orangtua (khususnya mertua) yang bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya, amin.

bahan bacaan:

French, Liam. (2011). Lest We Forget: Culture and The Formation of Collective Memory. Journal of Physical Activity and Human Development, Number 5.

5 thoughts on “Ini Jalan Kami

  1. Share kisah yang menarik Mas mengingat 3 buah hati kami semuanya berjenis kelamin wanita hehe… Mengutip kesimpulan paper Liam French “In conclusion, whilst there is much more scope for further work grounded in textual analysis of and reception contexts for media representations, media studies can potentially offer a more than significant intervention in the field of memory studies in terms of understanding the ways in which media and communication technologies and systems play a key role in the formation of both individual and collective memory in late modernity” Tampaknya menjadi menarik jika kita melakukan grounded research dengan cara melakukan analisis tekstual dan analisis reception atas representasi yang dilakukan media dan sistem ekologi media baru memainkan peran dalam membentuk memori individu dan memori kolektif ya Mas.. Selama ini banyak dinyatakan keprihatinan atas banyaknya perceraian, mungkin dalam konteks komunikasi antar pribadi dapat dilakukan studi terkait komunikasi antar pribadi antara mertua yang berasal dari strata ekonomi lebih tinggi dengan menantu laki-laki yang berasal dari strata ekonomi lebih rendah karena bagaimana pun pria secara psikologis memiliki harga diri yang tinggi terlebih di kultur budaya Jawa. Saya sepintas mencoba mengingat bagaimana media membingkai kisah mertua kaya dengan menantu laki-laki miskin. Beberapa Film TV (FTV) yang saya ingat tampaknya terlalu menyedehanakan kompleksitas kultur. Kisahnya biasanya disederhanakan, pemuda baik hati menolongbwanita cantik yang mogok mobilnya saat hujan deras, tidak sempat memberikan bayaran kemudian wanita itu dan ayahnya yang kaya raya mencari si pemuda tadi lantas kebetulan wanita itu diculik, dibebaskan si pemuda, menikah dan mereka pun bahagia selama-lamanya – cinderela syndrom jadinya kita yah…menantu yang baik akan disayang mertua, seperti itulah memorinkolektif yang dibangun media menurut saya.

  2. Makasih mas yuli sudah berbagi kisahnya. Lebih dari berdoa untuk memiliki orangtua dan mertua yang baik perangainya dan bisa menjadi teladan, saya juga ingin menjadi sosok yang seperti itu untuk anak dan menantu saya kelak. Dan cukuplah memori-memori yang ada selama kita menempati diri sebagai posisi tersebut menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama pada generasi setelah kita..Di sini, terkait dengan memori, saya kira dengan menulis begini merupakan hal yang efektif untuk tetap bisa mengingatkan diri kita, utamanya diri kita di masa depan. Karena terkadang kita lupa apa yang kita rasakan saat di posisi tersebut, dan akhirnya malah terjebak untuk melakukan kesalahan yang sama.

  3. Saya mendadak jadi gagal fokus saat membaca cerita mas Yuli…
    Sebagai seseorang yang belum menikah, banyak judge yg ditujukan ke saya pada usia segini.
    Padahal menurutku perlu pemikiran matang untuk hal itu, bukan semudah saya milih sekolah (walaupun milih sekolah juga tergolong sulit)
    mitos, memori yang terbentuk oleh generasi di atas orang tua saya kemudian yg menyebabkan orangtua saya bertindak demikian. Dan ini langsung atau tidak mempengaruhi tindakan saya juga. PR saya kemudian adl bagaimana saya menyikapi dengan tidak meremehkan atau malah mengopresi diri saya sendiri

  4. Seperti yang dikatakan Liam French, bahwasannya memori kolektif ini sifatnya secara terus menerus dibagi, diteruskan dan dibangun dalam kelompok tertentu terkait apapun yang dianggap benar, apakah artinya memori kolektif ini awalnya terbentuk dari mrmori individual yang kemudian dibagi dan menjadi memori kolektif yang kemudian dibagi lagi, sehingga menjadi memori individual lagi dan seterusnya berputar seperti demikian?

  5. Intinya kita jangan terjebak dalam memori kalau kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi yah mas. Salut sama istri mas Yuli yang memang berpihak pada Mas Yuli. Semoga langgeng selalu <3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *