Belajar Sensitif Gender

sumber

Corat-coretan ini berupaya untuk mengupas tentang pemikirannya Mahzarin R. Banaji dan R. Bhaskar, bahwa belief dan memory merupakan dua hal yang sejatinya saling terkait bila berbicara mengenai stereotipe. Saya sendiri sepakat dengan pemikirannya mereka, sebab dengan keyakinan/belief yang salah, tetapi dilakukan secara kontinyu, maka akan menghasilkan memori palsu, ‘people who are racist identify more black than white names; please do not use the race of the name in making your judgment.’

Menurut Banaji dan Bhaskar, beberapa contoh belief yang salah yang ada di dunia, diantaranya: ada keyakinan di masyarakat kalau perempuan itu emosional, aktivitasnya hanya mengasuh anak, dan ‘membersihkan rumah’, serta selalu berada pada posisi ‘tunduk’, sementara ada keyakinan kalau laki-laki itu agresif, kompeten, kuat dan aktivitasnya di luar rumah; ada keyakinan pula kalau orang miskin itu cenderung berkulit hitam daripada berkulit putih; ada keyakinan kalau penjahat itu cenderung berasal dari kulit hitam (Negro) daripada mereka/orang berkulit putih; ada keyakinan kalau orang Asia Timur itu cerdas tetapi pasif; ada keyakinan kalau orang laki-laki yang gay itu feminin; ada keyakinan pula kalau orang keturunan Asia Amerika memiliki bakat menyanyi, dan lain sebagainya.                     

Keyakinan-keyakinan yang keliru tersebut dapat ditafsirkan sebagai bentuk representasi yang bias. Selain itu, penilaian keliru terhadap orang lain tersebut hanya didasarkan pada belief tentang kelompok/budaya di mana orang tersebut berada, bukan berdasarkan pada penilaian atas perilaku/tindakan individu. Misal, untuk konteks di Indonesia: orang yang berasal dari Suku Jawa, dinilai/distereotipekan suka berbasa-basi, begitu pula orang yang berasal dari Suku Batak, distereotipekan berwatak keras dan suka berkata kasar, padahal belum tentu semuanya seperti itu.

Berdasarkan beberapa keyakinan (yang salah) di atas, maka perlunya mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan tindakan rasis (race bias), serta perlunya mendekonstruksi pandangan dan juga menentang pemikiran keliru yang menyatakan bahwa stereotipe itu benar dan rasional, setidaknya melalui pembelajaran yang coba saya/penulis lakukan ketika mendidik anak saya yang saat ini masih berusia 3 tahun. “Jangan membeda-bedakan sesama teman, ‘Nak, karena itu dapat menyakiti perasaan orang lain.”

Pembedaan terhadap manusia/tiap-tiap individu yang dilakukan secara terus-menerus berdasarkan kelompok sosial (ras, agama dan jenis kelamin) sejatinya merupakan sebuah keputusan yang tidak dapat diterima secara rasional, sebab konsekuensi logis dari pembedaan tersebut, seperti yang pernah saya sampaikan sebelumnya, dapat menyakiti siapapun, mengganggu stabilitas dan lebih jauh lagi, akan menghasilkan memori-memori palsu. Maka, proses pembedaan itu harus diputus karena dapat menciptakan pengalaman sosial yang keliru, atau pengalaman yang menyesatkan.

Salah satu upaya untuk memutus proses pembedaan itu dapat dilakukan oleh orang tua ketika mendidik gender ke anak-anaknya, agar anaknya nanti dapat menjadi individu yang bersensitif gender (hal ini juga saya coba terapkan ke anak saya). Sensitif gender sendiri dapat dipahami sebagai suatu sikap, baik itu dalam bentuk perkataan maupun perbuatan yang mendukung kesetaraan gender, dan sangat menghindari diskriminasi atas jenis kelamin tertentu. Untuk contoh dari pendidikan bersensitif gender, yakni dengan cara tidak melekatkan jenis warna tertentu pada jenis kelamin tertentu pula (misal: tidak melekatkan warna pink hanya untuk anak berjenis kelamin perempuan saja, bahwa pakaian warna pink dapat dipakai baik itu oleh anak laki-laki, maupun oleh anak perempuan); selanjutnya, tidak melekatkan permainan anak tertentu pada jenis kelamin tertentu pula (contoh: boneka tidak ditanamkan hanya untuk anak perempuan saja, mainan mobil-mobilan dan perang-perangan juga tidak ditanamkan hanya untuk anak laki-laki saja, bahwa baik itu anak perempuan maupun laki-laki seharusnya boleh mainan mobil-mobilan dan seterusnya, orang tua perlu memahami bahwa dunia anak-anak merupakan dunia bermain dan kreativitas, sehingga tidak boleh ada pembatasan. Sekedar informasi saja bahwa anak saya itu perempuan dan tertarik dengan mainan mobil-mobilan dan pesawat tempur, serta tidak suka boneka, bagi kami (saya dan istri) tidak mempersoalkannya, karena dunia anak-anak merupakan dunia untuk bermain).

Lalu, orang tua juga jangan menanamkan karakter watak pada anak-anaknya yang terindikasi bersifat bias gender (contoh: dengan tidak hanya menyatakan kalau ‘anak laki-laki itu harus kuat dan jangan cengeng’, tetapi seharusnya ‘anak laki-laki maupun anak perempuan itu seharusnya kuat dan juga tidak cengeng’); berikutnya, orang tua jangan pula bersifat patriarki dengan hanya memberi kesempatan bagi anak laki-laki untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, seharusnya anak perempuan juga diberi kesempatan yang sama, berupa pendidikan setinggi-tingginya.

Menurut keyakinan saya, cara mendidik anak yang bersensitif gender seperti itu, sejatinya bisa menekan penyebaran keyakinan/belief yang keliru akan paham patriarki dan stereotipe gender yang bias yang mana dewasa ini, paham tersebut telah terlanjur mengakar di memory masyarakat kita. yap, sekali lagi, perlunya menekan penyebaran keyakinan yang keliru, setidaknya melalui pembelajaran sensitif gender yang dimulai dari diri kita sendiri, dari unit terkecil, yakni keluarga. Ini solusi! Selamat mencoba bagi Anda yang belum ataupun yang sedang melakukannya, dan semoga berhasil!

bahan bacaan:

Banaji, Mahzarin R. and Bhaskar, R. (2000). Implicit Stereotypes and Memory: The Bounded Rationality of Social Beliefs. In Schacter and Scarry (Eds.), Memory, Brain and Belief (pp. 139-175). Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.

7 thoughts on “Belajar Sensitif Gender

  1. Mengedukasi anak bisa dilakukan dalam keluarga orang perorang, tapi mengedukasi masyarakat butuh kebijakan juga ya Mas. Sejauhmana pendidikan di sekolah ya?

    • saya kira keluarga/orang tua tetap memegang peranan penting dan besar dalam mendidik anaknya, agar nanti anaknya dapat menjadi pribadi yang bersensitif gender. ketika anak dibekali paham sensitif gender oleh keluarganya, maka anak tersebut diharapkan mampu memfilter terpaan paham patriarki yang mungkin ada dalam pendidikan di sekolahan.

  2. Menyambung dari mba handri..memang apa yang dilakukan orang per orang ini konkret ya, bisa langsung dikerjakan tanpa harus berkoar-koar sana sini, meskipun juga harus diakui daya dobraknya mungkin tak bisa se massif kebijakan. Dan lebih rumit lagi karena ini menyangkut sesuatu yang ada di kepala orang, bukan bentuk kebiasaan yang tampak-meski akan tergambar juga dari situ. Apalagi hal tersebut sudah terjadi turun temurun, duh..saya juga megakui tidak mudah memang mengubah mindset.

    Barangkali sebetulnya di sini peran media sangat dibutuhkan ya, apalagi dengan kehadiran media baru sebagai media alternatif..

  3. Menjadi PR besar kemudian, khususnya bagi saya pribadi, untuk membongkar dan membentuk kembali pandangan dan segala yang sudah saya dapat selama ini. Sulit, tapi setidaknya kita harus mencoba

  4. Sangat mengapresiasi cara mas yuli dalam mendidik anak-anak yang tidak membeda-bedakan atau menyematkan gender dalam mainan atau warna tapi terkait mendidik anak perempuan yang tidak boleh menangis itu seperti mendehumanisasi ya mas.. Hehe

    • maksud saya, orang tua seharusnya tidak memperlakukan secara berbeda terhadap anaknya, baik itu anak laki-laki maupun anak perempuan. pendidikan tentang kesetaraan gender perlu ditanamkan sejak dini ke anak.

  5. Setuju sama Mas Yuli, keluarga merupakan lingkungan utama yang memupuk bagaimana seorang anak dapat tumbuh kedepannya. Maka dari itu keluarga juga harus berhati-hati jangan sampai anaknya menjadi pribadi yang membeda-bedakan. Bercermin kepada keluarga saya, saya menjadi bersyukur memiliki orangtua yang cerdas dan mendidik saya untuk berteman dengan siapapun tanpa membeda-bedakan latar belakang sosial maupun budayanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *