Demokratisasi Kaum Minoritas dalam Ruang Publik?

sumber

Praktik komunikasi dalam kelompok etnis minoritas hanya dapat dipahami, bila kita menempatkan mereka dalam konteks secara global dan juga jika ada demokratisasi atas akses penggunaan peralatan teknologi. Melalui tulisannya Isabelle Rigoni dan Eugenie Saitta ini kita akan mempelajari bagaimana fenomena kontemporer tentang mobilitas, konsepsi baru terkait space serta transformasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), yang mana semuanya itu berkontribusi memahami relasi dalam kelompok-kelompok minoritas.

Untuk serangkaian penelitian terkait ‘TIK, Media dan Migrasi’ pertama kali dikembangkan pada tahun 1980-an, lalu menjadi salah satu tema penelitian yang menonjol pada tahun 1990-an, semenjak adanya/kemunculan internet, contohnya seperti studi tentang bagaimana peranan penggunaan TIK bagi para imigran, untuk tetap berinteraksi dengan negara asal mereka. Melalui TIK (dunia maya), populasi minoritas yang tersebar di seluruh dunia, bisa tetap saling dipertemukan. Untuk konteks media sendiri dalam tulisan ini, tidak hanya terkait dengan media mainstream (seperti media televisi, radio, cetak), tetapi juga termasuk media poster, blog, music ataupun video online serta lain sebagainya.

Sementara itu, adanya perubahan praktik komunikasi di antara etnis minoritas, sebagai akibat dari penggunaan teknologi digital. Fenomena globalisasi dan mobilitas global menciptakan masyarakat multikultural/masyarakat multietnis. Menurut Castells (1996), pola komunikasi baru memicu perkembangan dari ‘jaringan komunikasi’. Apalagi dengan adanya demokratisasi akses terhadap TIK, menyebabkan potensi pertukaran budaya dan informasi terjadi di seluruh dunia.

Peningkatan pertukaran proporsi virtual ini bukan semata-mata dilakukan langsung oleh para imigran, namun bisa juga dilakukan oleh para keturunan dari imigran tersebut. Dalam era informasi yang berubah secara cepat ini, mobilitas menjadi elemen yang penting. Mobilitas ini dapat dikaitkan dengan konteks adanya link/keterkaitan melalui dunia internet, bukan perpindahan fisik dari satu wilayah ke wilayah lainnya, maka untuk menciptakan dan tetap memelihara hubungan dengan orang lain dari seluruh dunia, saat ini tidak memerlukan adanya pergerakan fisik dan tatap muka secara langsung, karena media, terutama internet, menciptakan ilustrasi yang bagus atas realitas sosial tersebut. Dengan adanya internet, kedekatan dimungkinkan melalui alat digital (seperti aplikasi Skype, video blog dan lain sebagainya).

Kelompok sosial yang kerapkali memanfaatkan teknologi komunikasi ini, biasanya memiliki jaringan sosial yang padat. Melalui media internet, kaum subaltern juga dapat menciptakan ruang publik yang terfragmentasi. Ruang publik terfragmentasi dapat dipahami sebagai media bagi etnis minoritas berekspresi, dapat dipahami sebagai alat kontra hegemoni, serta dapat dipahami pula sebagai media alternatif.

Tulisannya Isabelle Rigoni dan Eugenie Saitta juga menyoroti perlawanan yang dilakukan oleh etnis minoritas atas ideologi dominan. Internet menciptakan bentuk solidaritas baru bagi kelompok minoritas dan merepresentasikan diri mereka di wilayah online. Penggunaan media web memberi fasilitasi bentuk aktivitas politik di satu sisi, dan di sisi lain, menciptakan rasa memiliki di antara anggota minoritas. Mihaela Nedelcu pernah melakukan penelitian terkait bagaimana caranya internet dapat memberikan suara kepada kelompok migran minoritas, yang mana memungkinkan suara kolektif mereka akhirnya didengar dipanggung publik.

Apalagi bila dikaitkan dengan konteks realitas di Indonesia, media massa mainstream dinilai masih memberikan perhatian minim bagi kelompok minoritas, padahal selama ini, negara juga seringkali abai terhadap hak kelompok minoritas pascakonflik. Hal ini terlihat dalam diskusi ‘Peran Media dalam Mempengaruhi Wacana Publik atas Diskriminasi dan Pelanggaran Hak-Hak Kelompok Minoritas’ yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dengan Yayasan TIFA, beberapa waktu yang lalu.

Contohnya dalam kasus konflik Syiah Sampang atau Ahmadiyah, bagaimana pemberitaan media terbanyak ‘hanya’ pada tiga hari hingga seminggu pertama pascakonflik terjadi, ketika air mata dan darah bercucuran, namun setelah itu diikuti dengan tren pemberitaan yang terus menurun secara drastis. Oleh sebab itu, Ketua AJI Indonesia menambahkan, pentingnya media membaca alasan di balik terjadinya konflik kelompok minoritas, terutama yang menggunakan isu suku, agama, ras dan antargolongan. Selain itu, media massa diharapkan juga ikut mengambil bagian dalam memberikan suara bagi kelompok minoritas dalam memperjuangkan haknya. Untuk informasi lengkapnya, silahkan kunjungi 😉

bahan bacaan: Democratizing the Public Space?, Ethnic Minority Media in a Glocal Context (Isabelle Rigoni dan Eugenie Saitta)           

4 thoughts on “Demokratisasi Kaum Minoritas dalam Ruang Publik?

  1. Yang kulihat di sini, khususnya dalam konteks Indonesia di mana jaringan internet belum merata, peran media mainstream itu yang akan lebih signifikan dalam menyuarakan isu terkait kaum minoritas. Karena sesuatu yang ramai di media baru, jika belum diangkat dalam media mainstream pun daya dongkraknya akan tidak begitu kuat..karena keberadaan media baru tidak dalam posisi menghapus media lama, namun saling menguatkan antara keduanya. Meskipun memang, hal yang baru dari media baru seperti yang kita tahu, setiap orang bebas untuk berbicara apapun karena dia memiliki akses untuk hal tersebut. Dan hal itu yang tidak kita dapat dalam media mainstream..

  2. Dan sayangnya masih tidak banyak penelitian mengenai kelompok minoritas dan bagaimana mereka berinteraksi di media sosial untuk membuka pandangan khalayak agar bersikap lebih bijak

  3. Terkait pendapat mas yuli yang mengatakan bahwa melalui media internet kaum subaltern dapat menciptakan ruang publik yang terfragmentasi. Ruang publik terfragmentasi dapat dipahami sebagai media bagi etnis minoritas berekspresi, dapat dipahami sebagai alat kontra hegemoni, serta dapat dipahami pula sebagai media alternatif.
    Saya rasa sebenarnya media baru atau internet itu sendiri masih dikuasai oleh kelompok-kelompok tertentu yang di waktu yamg bersamaan juga menguasi media mainstream.

  4. Menarik ya Mas Yuli bagaimana keberadaan media online menjadi alternatif keluaran bagi teori spiral of silence. Jika selama ini kelompok minoritas diam dengan adanya media baru mereka jadi ada media untuk berjuang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *