Encoding/Decoding

Komunikasi massa merupakan proses penyampaian pesan yang terjadi secara timbal balik. Bisa pula dipahami sebagai proses produksi, sirkulasi, distribusi/konsumsi serta reproduksi, yang mana antara satu dengan yang lain saling terhubung. Selain itu, Hall menyatakan adanya proses pengoperasian kode atas makna dalam pesan media yang dipertukarkan, lalu dilanjutkan dengan proses pengkonsumsian makna dari pesan tersebut. Hall menyatakan “If no meaning is taken, there can be no consumption. If the meaning is not articulated in practice, it has no effect”.

Media ketika memproduksi konten, sejatinya sedang mengkonstruksi kode/makna pesan. Makna konten media ini, lalu diterima oleh audiens (sehingga audiens bertindak sebagai penerima pesan). Pada lain sisi, audiens bisa melakukan interpretasi pesan, mengkritisinya serta melakukan umpan balik/sanggahan ke institusi media (audiens bertindak sebagai sumber informasi).

Sementara itu, dalam konteks encoding/decoding, Hall mengatakan bahwa menyandikan pesan media berarti membangun struktur makna (meanings structures 1), sehingga dapat menciptakan program acara yang penuh makna (programme as meaningful discourse). Lalu, pesan tersebut diterjemahkan, diinterpretasikan (meanings structures 2) dan akhirnya memiliki efek ke para audiens, baik itu efek secara kognitif, emosional, ideologis maupun sampai pada efek terjadinya perubahan perilaku. Relasi sosial dan faktor ekonomi mempengaruhi proses encoding/decoding ini. Proses komunikasi ini sendiri dapat diidentifikasikan pula ke dalam tipe penelitian positivistik. Untuk ilustrasi dari alur encoding/decoding-nya Hall, yaitu sebagai berikut:

sumber

Ketika kita melihat alur encoding/decoding-nya Hall tersebut, maka bisa dipersepsikan bahwa meanings structures 1 ada kemungkinan tidak sama dengan meanings structures 2, atau dalam arti lain, kode pada encode dan decode tidak simetris. Para profesional media mungkin menginginkan decoding sama dengan encoding. Akan tetapi, mereka tidak bisa memastikan atau menjamin hal ini. Makna yang dikodifikasi (encode meaning) tidak selalu berbanding lurus dengan makna yang dipahami (decode meaning). Dengan demikian, hasil pembacaan kode tidak dengan sendirinya dapat dijadikan sebagai model penciptaan kode.

Pemahaman atau justru kesalahpahaman rentan terjadi di antara media dengan audiensnya, di antara penyiar program acara dengan penontonnya. Salah satu penyebab terjadinya kesalahpahaman, berupa adanya distorsi/gangguan (misalnya: adanya gangguan teknis penyiaran). Selain itu, perbedaan antara meanings structures 1 dengan meanings structures 2 ini dapat disebabkan pula oleh adanya tingkat kemampuan audiens dalam meresepsi/pendekodean isi media.

Audiens meresepsi/mendekode secara berbeda atas konten media. Hall menjelaskan lebih lanjut bagaimana proses pendekodean berlangsung di dalam media. Ia melihat bahwa seorang khalayak/audiens melakukan pendekodean terhadap pesan melalui tiga sudut pandang atau posisi. Pertama, posisi pembacaan dominan (dominant-hegemonic position). Posisi ini terjadi ketika produsen acara menggunakan kode-kode yang bisa diterima secara umum, sehingga penonton akan menafsirkan dan membaca pesan/tanda itu dengan pesan yang sudah diterima secara umum tersebut. Untuk situasi ini, secara hipotesis dapat dikatakan tidak terjadi perbedaan penafsiran antara produsen dengan penonton/audiens, serta di antara penonton sendiri yang beragam secara hipotesis juga dapat dikatakan mempunyai penafsiran atau membaca tanda yang sama. Hal ini terjadi ketika produsen menggunakan kode-kode profesional sehingga hampir tidak ada beda penafsiran yang tajam di antara penonton. Produsen bisa jadi menggunakan pula kode-kode budaya, posisi politik yang diyakini dan menjadi kepercayaan dari penonton, sehingga ketika pesan dalam bentuk kode-kode itu sampai di tangan penonton, akan terjadi kesesuaian. Apa yang ditandakan oleh produsen, ditafsirkan dengan pembacaan umum oleh khalayak penonton.

Kedua, pembacaan yang dinegosiasikan (negotiated code/position). Pada posisi kedua ini, tidak adanya pembacaan dominan. Kondisi yang terjadi berupa kode apa saja yang disampaikan produsen, ditafsirkan secara terus-menerus diantara kedua belah pihak. Produsen di sini juga menggunakan kode atau kepercayaan politik yang dipunyai oleh khalayak, tetapi ketika diterima oleh penonton tidak dibaca dalam pengertian umum, tetapi khalayak akan menggunakan kepercayaan dan keyakinannya tersebut dan dikompromikan dengan kode-kode yang disediakan oleh produsen.

Ketiga, pembacaan oposisi (oppositional code/position). Posisi pembacaan dari jenis yang ketiga ini merupakan kebalikan dari posisi yang pertama. Pada posisi pembacaan pertama, khalayak disediakan penafsiran yang umum dan tinggal pakai secara umum pula, serta secara hipotesis sama dengan apa yang ingin disampaikan oleh produsen. Sementara itu, dalam posisi ketiga ini, penonton/pembaca akan menandakan secara berbeda atau membaca secara berseberangan dengan apa yang ingin disampaikan oleh produsen tersebut. Pembacaan oposisi ini muncul kalau produsen tidak menggunakan kerangka acuan budaya atau kepercayaan politik khalayak pembacanya, sehingga penonton/pembaca akan menggunakan kerangka budaya atau politiknya sendiri (Hall dalam Hall, Hobson, Lowe dan Willis, 1986: 129-138).

Akhirnya, ada pertanyaan untuk Anda bila dikaitkan dengan proses pendekodean tersebut, yakni ketika Anda sedang menonton berita tentang korban perkosaan, yang mana identitas korban justru ditampilkan/diinformasikan secara apa adanya oleh media, maka Anda sebagai penonton, akan berada di posisi yang keberapa?, lalu alasan apa yang mendasarinya?

bahan bacaan:

Hall, Stuart. 2006. “Encoding/Decoding”. Dalam Meenakshi Gigi Durham dan Douglas M. Kellner (Eds.), Media and Cultural Studies: KeyWorks. Malden: Blackwell Publishing Ltd: page 163-173.

Hall, Stuart, Dorothy Hobson, Andrew Lowe and Paul Willis (Eds.). 1986. Culture, Media, Language. London: Hutchinson: page 129-138.

5 thoughts on “Encoding/Decoding

  1. Penyebutan identitas korban pemerkosaan merupakan hal yang melanggar kode etik jurnalistik,sama sekali tidak dibenarkan secara hukum dan etika. Saya sih no mas,oposisi terhadap media dalam hal ini 🙂 meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa issu2 tersebut sangat laku di pasaran ya. Selain media yang bablas,masyarakatnya pun juga seringkali kepo. Mencari hal yang tidak ada di media,padahal mungkin sengaja tidak dimunculkan dalam kerangka melindungi korban..

  2. Kalau media justru menjabarkan atau menyebutkan identitas korban pemerkosaan secara blak blak an dan melindungi atau menutupi identitas tersangka tentu saya akan berposisi pada yang ketiga yakni oppositional code, karena saya sadar betul bahwa ini tidak benar, selain karena pemberitaan ini berdampak pada pencorengan nama baik keluarga korban, media dalam hal ini artinya juga tidak dapat menjalankan perannya sebagai sarana edukasi masyarakat atau publik seperti yang seharusnya dilakukan oleh media.

  3. Tanpa dicantumkan namanya pun korban pemerkosaan sudah tersohor dengan aibnya. Wanita yang tidak dapat menjaga kesuciannya sekalipun itu karena pemerkosaan adalah bukan wanita baik-baik masih menjadi stereotipe di Indonesia.

  4. Kalau melihat berita mengenai perkosaan di mana beritanya ditampilkan apa adanya, saya sih bakal jadi pembaca oposisi, mas. Itu beritanya berarti cuma mau mencari bahan buat diberitakan saja, agar menarik khalayak supaya yang lihat menjadi ramai, lalu menjadi viral. Tapi memang tidak bisa dihindari, bahwa isu-isu seperti itu justru ramai khalayaknya. Jika media nya sendiri hanya berorientasi pada ekonomi, wah yah gak bisa dihindari lagi deh… Peran media sebagai penyalur informasi yang bermanfaat makin bergeser deh yaah hahaha.

  5. Aku gak setuju mas ketika identitas korban disebutkan, meskipun dengan inisial, “sebut saja bunga”, sekalipun. Bagaimanapun itu akan memberi dampak psikis yang negatif bagi korban. dari segi etika juga menurutku itu salah. media tidak bisa selalu mengedepankan apa yang dinamakan “good news” menurut mereka tanpa mengedepankan etika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *