Efek Media

sumber

Secara garis besar, tulisan ini ingin menunjukkan bagaimana image stereotipe ada dalam konten media, dan itu dapat mempengaruhi audiens. Bradley W. Gorham dalam karyanya yang berjudul ‘Considerations of Media Effects’, memberikan contoh bagaimana orang kulit hitam bila digambarkan dalam konten media (iklan, film dan sebagainya), selalu dilekatkan sebagai pelaku kriminalitas. Fenomena ini dapat terjadi karena adanya stereotipe yang muncul dari orang kulit putih (kelompok dominan) terhadap orang kulit hitam (minoritas).

Selain dilekatkan sebagai pelaku kriminalitas, stereotipe kulit Hitam itu biasanya orang-orang miskin, tidak berpendidikan dan ‘suka bikin onar’. Studi psikologi sosial dan efek media menunjukkan bahwa isu-isu ras/stereotipe minoritas dalam konten media, memegang peranan penting dalam menggiring opini audiens, namun di sisi lain, isu tersebut dapat pula menyebabkan audiens mampu berpikir kritis dalam menginterpretasikan suatu kebijakan media.

Hamilton dan Trolier mendefinisikan stereotipe sebagai suatu struktur kognitif yang berisi pengetahuan, kepercayaan dan harapan, terkait kelompok tertentu, atau penilaian terhadap seseorang yang didasarkan pada persepsi terhadap kelompok, di mana orang tersebut dikategorikan. Mereka (Hamilton dan Trolier) menyampaikan adanya karakteristik dari stereotipe. Stereotipe itu selalu terkait dengan pikiran. Dalam ilmu psikologis, struktur kognitif dapat disebut dengan schema. Schema terkait dengan konteks objects (misal: kursi, meja), events dan people.  A stereotype, then, is a schema for people we perceive as belonging to a social group. Oleh karena itu, stereotipe dapat berupa hal yang positif (seperti yang disampaikan oleh Hamilton dan Troiler), dapat pula negatif (dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif).

Selain itu, tokoh lain (Devine) mengatakan kalau stereotipe itu meresap dalam konten media dan juga meresap dalam setiap interaksi manusia. Stereotipe mudah untuk dipahami. Devine menyatakan bahwa stereotipe dapat ditemukan dalam setiap kata-kata yang terucap maupun dalam setiap kata yang tertulis di media. Ketika kata-kata yang kita ucapkan ke orang lain bernada penghinaan secara fisik maupun psikis (misal: ‘dasar sipit’, ‘dasar negro’, ‘dasar pesèk’, ‘orang kulit hitam itu miskin karena malas’, dan seterusnya), maka ini sudah termasuk bagian dari permasalahan stereotipe/rasisme. Kata-kata seperti itu bila dikritisi pada hakikatnya merendahkan martabat dan harga diri orang lain.

Banyak penelitian yang mengkaji perilaku seseorang yang dikaitkan dengan karakteristik kelompok sosial di mana orang tersebut berada. Ada istilah perilaku ingroup dan outgroup. Ingroup merupakan sekumpulan orang yang distereotipkan memiliki kesamaan sifat dan perilaku, sementara outgroup itu ‘not like us’. Menurut Pettigrew, orang-orang ingroup memandang berbeda dan negatif orang-orang yang berada di luar kelompoknya (outgroup). Orang-orang ingroup juga beranggapan bahwa tingkah laku yang baik terbentuk selama mereka berinteraksi dengan sesama anggota kelompoknya, sementara tingkah laku yang negatif itu berasal dan didapat dari pengaruh orang luar/’asing’.

Sementara itu, untuk konteks media di Indonesia, isu stereotipe ini biasanya melekat dalam berbagai tayangan media, mulai dari sinetron, infotainmen, iklan, hingga berita. Misalnya, gambaran tentang perempuan pemarah, pencemburu, pendendam ada dalam tayangan sinetron. Lalu, tayangan infotainmen terlihat mempropagandakan pasangan sebagai hal yang paling penting dalam kehidupan perempuan. Jika seorang artis perempuan tidak berpasangan, maka ia akan terus dikejar-kejar pertanyaan pekerja infotainmen. Menurut Penulis, status lajang bagi perempuan menjadi status ‘sasaran’ yang dilekatkan oleh infotainmen di televisi.

Hal lainnya adalah status cantik yang melekat dalam industri media televisi. Siapa saja yang tampil menjadi selebritas di televisi ‘harus’ selalu cantik. Jika tidak cantik menurut media, maka seorang perempuan akan mendapatkan label: tidak seksi, kurang putih, atau bahkan kalah pamor dari perempuan cantik ‘pendatang baru’.

Stereotipe cantik ini tidak hanya terjadi dalam industri periklanan di televisi, namun telah menjalar di produk media lainnya. Stereotipe yang berkisar dalam hal kecantikan inilah yang akhirnya dapat membuat perempuan ‘rawan’ membenci tubuhnya. Para perempuan ‘rawan’ membenci wajahnya karena menganggap kurang cantik, kakinya yang kurang panjang dan tubuhnya yang terlalu gemuk. Akibatnya, perempuan ‘bisa’ terjebak dalam propaganda media dan ‘bisa’ menjadi pemimpi, yakni ingin berubah menjadi tubuh yang diinginkan oleh industri media. Oleh karena prasyarat cantik inilah yang kemudian digunakan untuk menentukan identitas seseorang, yaitu dengan simbol-simbol, signifikansi, representasi dan semua bentuk citra. Kriteria inilah yang sering dilabelkan bagi seorang atau sekelompok perempuan tertentu.

Tidak hanya itu, menurut pengamatan Penulis, industri media kemudian ikut memecah-belah perempuan. Adanya fenomena pengkotak-kotakan: perempuan berwajah cantik, perempuan berkulit putih dan perempuan bertubuh langsing versi media, dengan perempuan-perempuan yang berciri sebaliknya. Hal ini kemudian dibesarkan melalui mode, fashion dan terrepresentasikan melalui kontes-kontes putri Indonesia atau bahkan tercermin dalam kontes ratu-ratuan sejagat. Media televisi, dalam kultur industri di Indonesia, sekali lagi, turut andil dalam menyebarkan dan membesarkan virus bernama ‘perempuan cantik versi media’, ironi!

bahan bacaan: Considerations of Media Effects (Bradley W. Gorham)

4 thoughts on “Efek Media

  1. bahasan yang menarik Mas Yuli. pemahaman tentang adanya dampak media inilah yang seharusnya membuat kita lebih “sadar” tentang adanya terpaan media yang membuat pemikiran kita jadi terbentuk tentang gambaran wanita yang tidak ideal itu seperti apa – misalnya wanita tidak ideal ketika wanita tersebut marah. Sehingga kerap kali ketika wanita marah dikomentari “kamu perempuan bukan sih?” Padahal dalam kondisi tertentu misalnya wanita memang tidak mampu menghindarkan diri dari marah tersebut sebagaimana dikisahkan dalam salah satu hadits misalnya ketika Istri Rasulullah pun ketika cemburu bisa membanting piring. Namun pengambaran tokoh antagonis dalam sinetron maupun film menanamkan kesadaran perempuan yang dapat marah itu sebagai perempuan tidak ideal.

  2. Disebutkan diatas bahwasannya stereotipe itu bersifat meresap dalam konten media dan juga meresap dalam setiap interaksi manusia. Stereotipe mudah untuk dipahami dan stereotipe dapat ditemukan dalam setiap kata-kata yang terucap maupun dalam setiap kata yang tertulis di media.
    Tetapi ternyata ada karakter atau sifat yang lain dari stereotype yang disebutkan oleh artikel U.S news mas, yakni stereotipe ini juga bersifat tahan lama, yang dibawa oleh individu dan dipercaya sepanjang hidupnya.

    Sumber:
    https://www.usnews.com/science/articles/2010/08/12/stereotyping-has-lasting-negative-impact

  3. Padahal kriteria yang ditetapkan oleh media tersebut bagi Sumita Sarkar merupakan hal yang tidak realistis,sulit dicapai banyak orang. Model selalu diperlihatkan kutilang (kurus tinggi langsing),padahal pemakai bajunya/konsumen kan tubuhnya beragam ya. Nyaris susah nemu model dengan berbagai bentuk tubuh yang sesuai sama realita di lapangan. Ah perempuan..yuklah berbahagia dengan apa adanya kita..

  4. Membaca ini mengingatkan pada fenomena bedah plastik yang menjadi trend saat ini. bagaimana di Korea, bedah plastik digunakan sebagai hadiah ulang tahun (khususnya 17th) agar bisa merubah wajahnya sesuai dengan standar kecantikan/ketampanan yang ditetapkan oleh budaya populer melalui media tentunya.
    Yang kemudian menjadi pertanyaan kembali ke diri kita masing-masing, masihkah kita menerima standar dan buaian yang disajikan oleh media? apakah benar cantik atau tampan itu harus seperti itu? atau justru kata “cantik” dan “tampan” itu sendiri tidak bisa didefinisikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *