Backlash, The Undeclared War Against American Women

sumber

Backlash, The Undeclared War Against American Women merupakan buku non fiksi karya Susan Faludi yang mulai dipublikasikan sejak tahun 1991, dan buku ini tercatat pernah memperoleh National Book Critics’ Circle Award. Untuk Susan Faludi sendiri meraih Pulitzer Prize untuk kategori Explanatory Journalism pada tahun yang sama (1991). Sementara itu, Faludi melalui bukunya ini berpendapat bahwa media telah melakukan ‘perlawanan’ atas pergerakan feminist yang ingin memperjuangkan hak-haknya, yang mana terjadi disekitar tahun 1970 dan 1980-an. ‘Perlawanan’ media yang dimaksud dalam hal konstruksi pemberitaannya, terlihat dari istilah-istilah ‘desperate housewives’, ‘security moms’, ‘opting-out’ ataupun ‘the new baby fever’, yang mana bermakna menyudutkan perempuan. Kerapkali media juga melontarkan topik ‘Wither the Women’s Movement.’ Buku ‘backlash’ ini dapat pula dianggap telah melakukan analisis kritis atas fenomena ketidakadilan sosial, ekonomi dan politik yang dialami oleh para perempuan Amerika di sekitar tahun 1970 dan 1980-an.

Untuk uraian selanjutnya, berupa sinopsis dari setiap bagian dari buku ‘Backlash, The Undeclared War Against American Women.’

Introduction: Blame it on Feminism

Perempuan Amerika pada tahun 1970 dan 1980-an di-image-kan secara negatif, salah satunya melalui iklan dan pemberitaan di media. Media terkesan menolak perjuangan feminisme untuk kesetaraan. Namun, kondisi berbeda mulai dirasakan pada akhir abad ke-20. Hal ini menunjukkan perjuangan feminist telah berhasil, di mana perempuan-perempuan di Amerika telah memiliki banyak peluang. Mereka saat ini dapat bergabung dan belajar di universitas/institusi pendidikan manapun, dapat bergabung dan bekerja di perusahaan manapun, ataupun dapat mengajukan kredit di bank manapun. Intinya, para perempuan di Amerika memiliki kesempatan hidup yang sama dengan laki-laki.

Part One: Myths and Flashbacks

Faludi menulis dan menemukan beberapa mitos yang berkembang seputar perempuan di Amerika, contohnya: para perempuan yang berkarir secara profesional, rentan memiliki penyakit mental daripada dengan rekan mereka yang tidak bekerja; ketergantungan perempuan yang bekerja pada tempat penitipan anak; serta adanya perceraian yang berpengaruh negatif terhadap keuangan perempuan. Faludi lalu menegaskan bahwa mitos-mitos yang berkembang ini tidaklah benar.

Meskipun mitos-mitos tersebut ditolak secara tegas oleh Faludi, namun secara realita, setidaknya ada satu hal yang benar, bila ditarik ke konteks yang terjadi di Indonesia (Semarang), yaitu terkait dengan masalah perceraian. Ada korban KdRT asal Semarang berinisial Smh. Dia merasa tidak berdaya secara ekonomi bila tanpa kehadiran dan bantuan suaminya, maka ibu/perempuan tersebut merasa pasrah dan terpaksa ‘memaklumi’ kelakuan suami, ketika suaminya selingkuh/nikah lagi, meskipun tanpa ijin darinya. Basis ekonomi yang ‘lemah’ bila dibandingkan dengan suami, menyebabkan pikirannya tidak terbuka untuk menyadari keadaan kekerasan yang telah dialaminya, dan cenderung ‘main aman’. “Siapa yang akan menafkahi Saya dan anak-anak Saya, bila suami menceraikan Saya,” ujar Smh.

Part Two: The Backlash in Popular Culture

Adanya standar-standar kecantikan yang berbeda-beda di setiap era, mulai dari era kecantikan jaman Renaissance (1400-an sampai awal abad ke-16), Era Victoria (1837-1901), The Roaring 20s (era baju lengan pendek dan flappers), tahun 1930-an dan 1940-an (Hollywood Golden Age), era 1950-an, era 1960-an, 1970-an (era disko), tahun 1980-an (dekade rambut dan bahu besar), era 1990-an, dan era 2000 sampai sekarang. Untuk informasi lebih lanjut terkait standar kecantikan di setiap masa, silahkan klik 😉 Industri-industri kecantikan dipromosikan, padahal adanya fenomena standar kecantikan ini sejatinya justru memberikan tekanan ke para perempuan.

Part Three: Origins of a Reaction: Backlash Movers, Shakers, and Thinkers

‘The politics of despair in America has typically been the politics of backlash’ (Seymour Martin Lipset dan Earl Raab). Faludi menjelaskan adanya gerakan-gerakan anti feminis, beserta para tokoh dibalik gerakan anti feminis tersebut. Akan tetapi, gerakan-gerakan anti feminis ini bisa dikatakan sebagai politik putus asa, karena pergerakan feminisme pada akhirnya berhasil, dengan berbagai kesempatan dan hak yang didapat oleh para perempuan Amerika.

Part Four – Backlashings: The Effects on Women’s Minds, Jobs, and Bodies

Faludi melalui bukunya ‘backlash’ ini juga mengkritisi menurunnya upah pekerja perempuan di Amerika sepanjang tahun 1980-an, sementara media di sisi lain memberitakan sebaliknya. Faludi mengkritisi pula kontrak kerja, agar lebih memberikan kesempatan pada perempuan untuk bekerja di sektor jurnalistik, industri dan lain sebagainya. Selain itu, Faludi menegaskan bahwa perempuan Amerika saat ini bisa menggugurkan kehamilan yang tidak diinginkan secara legal dan aman. Akhirnya, Faludi pada hakekatnya bersikap kritis dan memiliki kepedulian terhadap isu-isu perempuan, sehingga buku ‘backlash’ tersebut bisa menjadi salah satu pembelajaran buat siapapun yang sedang belajar feminisme.  

bahan bacaan: Backlash, The Undeclared War Against American Women (Susan Faludi)
       

7 thoughts on “Backlash, The Undeclared War Against American Women

  1. Tulisan ini semacam teaser yang bikin orang penasaran untuk baca bukunya,setidaknya buatku ^^. Terutama yang terkait mitos itu loh,karena jamak sekali terdengar di lingkungan sekitar,betapa ibu2 bekerja ketergantungan dengan daycare atau asisten rumah tangga yang dalam titik tertentu saat mereka lelah dengan rasa ketergantungan itu,akhirnya memilih untuk tidak bekerja. Sama halnya dengan keuangan perempuan yang tidak stabil pasca perceraian,yang juga masih sering terdengar. Jadi mempertanyakan penjelasan Faludi tentang yang dianggapnya mitos tersebut..

    Hal yang menarik juga adalah standar kecantikan tiap era. Bagaimana sebetulnya tren-tersebut dibentuk dan disebarkan sehingga menjadi kesepakatan umum ya? Apakah memang di balik itu ada elit yang merancang tren tersebut,layaknya perkembangan tren dalam berpakaian?

    Menarik mas,jadi tertantang untuk baca bukunya langsung..

  2. Menarik bahasannya, Mas Yuli. Saya jadi tertarik mengenai standar kecantikan wanita pada setiap era, yang dimulai dari jaman Rennaissance hingga sekarang. Tentunya standar kecantikan tersebut tidak lepas dari apa yang disukai oleh kelompok dominan. Pertanyaan saya, apakah media memiliki banyak kontribusi akan standar-standar kecantikan ini? Kalau iya, bagaimana ketika pada zaman Rennaisance? Siapakah pihak yang memulai? Karena pada akhirnya, yang diuntungkan oleh adanya standarisasi ini ialah para kapitalis industri produk-produk kecantikan. Bayangkan saja jika tidak ada standar kecantikan wanita, bisa-bisa produk skin care dan obat pelangsing gak bakal laku yah Mas, hehehe.

  3. Halo Mas Yuli! Ada hal yang ingin aku tanyakan perihal review di atas nih. Berkaitan dengan image ideal perempuan dalam budaya populer, yang berubah dari masa ke masa, menuntut perempuan untuk selalu mengikuti mode agar tetap diakui eksistensinya di masyarakat, kurang lebih begitu pemahamanku. Pertanyaannya adalah : apakah tidak ada mode dengan kriteria serupa (berubah-ubah dan cenderung menekan) untuk laki-laki? Karena kalau di Indonesia seingat saya dulu sekali standar ketampanan itu yang rambutnya belah tengah dan bertahi lalat (ini waktu jaman si Doel itu lho mas, cuma aku ga tau sih apakah sampai menimbulkan gerakan operasi tanam tahi lalat atau tidak hehe). Kemudian berubah jadi entahlah, rambut gondrong? hingga kini model undercut sebagai model rambut pria hits. Belum lagi perut sixpacks dengan otot bisep trisep buat lelaki makin kasep. Bagaimana dengan konsep ideal untuk laki-laki, apakah sama impactnya dengan perempuan? Anw, nice review Mas! Thank you for sharing 😀

  4. Yang aku tangkap disini (luruskan aku kalau salah mas) adalah Faludi menganggap bahwa gerakan anti feminis sebagai perang terhadap feminisme melalui media massa dan budaya popular. Media tidak mendukung aksi perlawanan karena media tetap menggambarkan perempuan sebagai seseorang yang berdiam diri di rumah, atau ketika dia adalah perempuan bekerja, dia digambarkan sebagai wanita perfeksionis dan/atau ambisius, perempuan masih harus dihukum karena ingin berhasil, atau wanita yang tertindas. Media massa dan budaya popular digunakan sebagai perantara untuk menyebarkan propaganda yang mendiskreditkan perempuan-perempuan yang telah teremansipasi. Berhubungan dengan bahan bacaan lain, ada kesadaran palsu yang disebarkan melalui media, kalau disini, khususnya mengenai wanita. Media juga melanggengkan ideologi yang dianggap benar oleh kelas dominan. Tapi aku rasa bacaan ini masih belum menjawab banyak ‘pertanyaan mengenai perempuan’ meskipun menunjukkan gimana kita dimanipulasi oleh media.
    Menurut Mas Yuli gimana sih pandangannya Faludi tentang fashion dan perempuan? khususnya pada part keempat, pengaruh pemikiran, kerjaan, dan fisik perempuan.

    Terimakasih Mas Yuli atas ilmunya…

  5. Wah menarik mas review nya.. Apalagi
    yang bagian 3, Origins of a Reaction: Backlash Movers, Shakers, and Thinkers. Bagaimana Faludi menjelaskan tentang munculnya gerakan-gerakan anti feminis yang bisa dibilang sebagai politik putus asa menentang gerakan feminisme, namun pada akhirnya pergerakan feminisme berhasil dengan berbagai kesempatan dan hak yang didapat oleh para perempuan Amerika.

    Perjuangan kaum feminist yang berhasil membawa perubahan di Amerika ini membuat saya semakin optimis dengan gerakan-gerakan serupa di Indonesia, seperti organisasi MMA di Aceh misalnya, yang berkontribusi dalam pemberdayaan perempuan dalam ekonomi dan perolehan keseteraan. Tetapi sayangnya gerakan tersebut hanya berkontribusi dalam skala lokal saja, saya belum pernah menjumpai gerakan-gerakan feminisme di Indonesia yang mampu memberikan kontribusinya dalam level nasional (seperti yg terjadi di Amerika) semenjak perjuangan emansipasi wanita oleh R.A Kartini.

  6. Introduction: Blame it on Feminism… nah, saya tertarik sekali dengan pengantar luar biasa dari Susan Fauladi. Benar seperti yang Mas Yuli kemukakan, bahwa: “pada akhir abad ke-20. Hal ini menunjukkan perjuangan feminist telah berhasil, di mana perempuan-perempuan di Amerika telah memiliki banyak peluang. Mereka saat ini dapat bergabung dan belajar di universitas/institusi pendidikan manapun dst..” akan tetapi bila berkenan, saya ibgin menambahkan apa yang digarisbawahi Susan Fauladi dalam pengantarnya yang berjudul “Blame It On Feminism” adalah bagaimana feminism disalahkan sebagai penyebab, ketika ada kegagalan dalam mendidik anak, maka kesalahan kerap kali ditimpakan kepada para ibu yang dianggap telah menyalahi kpdratnya sebagai perempuan yang seharusnya berada di rumah, mendidik anak. Pengantar inilah yang berikutnya mengiring pada penjelasan Fauladi bagaimana media digunakan untuk mendeskreditkan perempuan yang beremansipasi. Ironisnya apa yang dilakukan media tersebut mendapat dukungan pemerintah. Begitulah akhirnya menurut saya, media mengkonstruksi pemilikiran-pemikiran ideologis yang menindas perempuan. Penindasan atau kolonialisme gaya baru tersbuy dilakukan secara ideologis berupa pencekokan ideologi secara terstruktur misalnya bahwa perempuan ya kodratnya sebagai pendidik, pengasuh, penjaga anak-anak bukan pencari mafkah untuk keluarga misalnya atau sekedar menunjukkan eksistensinya sebagai pribadi. Pemikiran inilah yang melahirkan gerakan-gerakan yang mendorong agar perempuan kembali ke rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *