Sexual Politics

gambar dipinjam dari sini

Ada satu pertanyaan yang menurut penulis menarik: ‘can the relationship between the sexes be viewed in a political light at all?’ Jawabannya, tergantung pada bagaimana kita mendefinisikan politik. Politik dalam konteks ini jangan diartikan ‘sempit’ sebagai pertemuan partai-partai politik, tetapi seharusnya diartikan sebagai kekuatan terstruktur yang mengatur suatu kelompok/jenis kelamin tertentu, sementara kelompok yang diatur dan tersubordinasi mengalami penindasan. Situasi ini didefinisikan Max Weber sebagai herrschaft, yaitu relasi antara dominance dan subordinance. Dominansi terkait dengan pemaksaan sesuatu ke pihak lain. Weber juga melontarkan istilah Wirtschaff und Gesellschaft, yang mana membagi kontrol atas masyarakat dalam dua bentuk, yakni kontrol sosial (melalui sistem patriarkal) dan kontrol melalui kekuatan ekonomi. Semua ini bisa terjadi, karena adanya eksistensi dari paham patriarki di masyarakat. Prinsip patriarki sendiri pada dasarnya ada dua, yakni male shall dominate female, and elder male shall dominate younger. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa setiap sendi kehidupan, baik itu di dunia militer, industri, teknologi, lembaga pendidikan, ilmu pengetahuan, lembaga pemerintahan maupun keuangan, semuanya dikendalikan oleh ‘tangan laki-laki.’

Kate Millett lalu mendeskripsikan apa itu patriarki/sexual politics ke dalam delapan sudut pandang, di antaranya: ideological, biological, sociological, class, economic and educational, force, anthropological: myth and religion, serta psychological.

Ideological

Ideologi patriarki berkenaan dengan temperament, role and status. Untuk konteks status, laki-laki dianggap memiliki status superior, sedangkan inferior dilekatkan pada perempuan. Status ini berkorelasi secara politis. Untuk temperament, berkaitan dengan stereotipe jenis kelamin (maskulin dan feminin). Sifat-sifat seperti agresif dan ‘keras’ dilekatkan pada laki-laki; sementara sifat pasif dan patuh, dilekatkan pada sosok perempuan. Temperament ini berkorelasi secara psikologis. Lalu untuk sex role, berkaitan dengan penugasan pekerjaan domestik/rumah tangga yang melekat pada perempuan, sementara ambisi mengejar prestasi itu ‘haknya’ laki-laki. Sex role ini berkorelasi secara sosiologis.

gambar dipinjam dari sini

Biological

Sementara itu, Robert J. Stoller dalam Sex and Gender (1968), membedakan pengertian antara jenis kelamin dengan gender. Bila sex/jenis kelamin dikaitkan dengan konteks biologis, yang mana terkait dengan perbedaan anatomi dan fisiologi antara laki-laki dengan perempuan. Lalu, untuk istilah gender sendiri dilekatkan pada aspek psikologis (maskulin dan feminin), serta merupakan output dari konstruksi sosial (bukan pemberian Tuhan). Gender tidak muncul tiba-tiba, tetapi bersemayam pada bahasa yang dipertukarkan. Misalnya, ada anggapan anak laki-laki tidak boleh menangis, yang boleh menangis anak perempuan; ada anggapan anak laki-laki tidak boleh mainan ‘pasaran’, anak perempuanlah yang boleh mainan ‘pasaran’. Contoh lainnya, pakaian berwarna pink, wajar bila dipakai perempuan, namun dianggap tidak wajar bila dipakai laki-laki. Mengapa anggapan-anggapan tersebut bisa terus muncul dan seakan-akan menjadi suatu keyakinan di masyarakat?, jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Bila Anda memiliki sensitivitas atas isu gender, tentunya tidak akan mempercayai anggapan-anggapan tersebut.

Sociological    

Selanjutnya, unit institusi patriarki yaitu keluarga. Penanaman ideologi patriarki ini dilakukan sejak di keluarga, melalui pendidikan orang tua ke anak-anaknya, sehingga keluarga dapat dikatakan sebagai prototipe dari masyarakat. Keluarga, masyarakat dan negara merupakan satu entitas yang saling berkaitan dalam pelestarian paham patriarki, apalagi ditambah dengan pernyataan berkonteks agama (Catholic maupun Islam) yang mendukung ideologi tersebut seperti ‘the father is head of the family.’ Secara tradisi, sistem patriarki mendukung otoritas yang absolut dari ayah atas ‘kepemilikan’ istri dan anak-anaknya, termasuk mendukung tindakan penyalahgunaan kekuatan fisik/kekerasan.

Sementara itu, penelitian pertama kali terkait keluarga patriarki dan garis keturunan, tercatat pernah dilakukan oleh Sir Henry Maine, yang mana mengistilahkan keluarga patriarki sebagai patria potestes. Namun sayangnya, hasil penelitiannya Maine ini disangkal oleh matrilineal societies di Afrika bahwa tidak semua masyarakat, garis keturunannya berasal dari pihak laki-laki. Hal ini memberi pembelajaran bagi kita bahwa tidak semua budaya masyarakat di dunia ini yang berpegang pada garis keturunan laki-laki, karena ada bagian dari masyarakat dunia yang menerapkan garis keturunannya dari pihak ibu/matrilineal.

Class

Class merujuk pada status perempuan dalam sistem patriarki. Untuk status perempuan ini sendiri, tergantung pada kekuatan ekonomi, sosial dan tingkat pendidikan yang dimiliki perempuan. Misalnya, perempuan kulit hitam di Amerika yang memiliki pekerjaan sebagai dokter atau pengacara, memiliki status yang lebih tinggi daripada perempuan yang bekerja sebagai petani. Namun bila dikaitkan dengan isu racism, maka perempuan kulit hitam di Amerika tetap rawan menerima opresi, meskipun mereka memiliki profesi profesional yang ‘menjanjikan.’

Dampak class dalam patriarki ini menyebabkan adanya persaingan di antara perempuan. Mereka berlomba ‘mempercantik diri’ agar dapat survive dalam sistem patriarki. Mereka berupaya ingin menjadi perempuan-perempuan yang sesuai dengan apa yang ditampilkan dalam media-media patriarki, seperti berkulit bersih, putih, bertubuh langsing, bahenol dan berambut hitam lurus.                  

Economic and Educational

If knowledge is power, power is also knowledge. Istilah ini tepat untuk menggambarkan bagaimana posisi perempuan dalam sistem patriarki. Status dan reward akan diperoleh perempuan, bila mereka memiliki tingkat pendidikan yang tinggi serta selama mereka memiliki profesi/jenis pekerjaan yang baik. Kondisi sebaliknya akan muncul (terjadi penindasan), bila perempuan-perempuan ini tidak memiliki kesempatan dan akses secara akademis maupun ekonomi.

Force

Secara historis, patriarki memiliki kekuatan yang diinstitusionalisasikan dalam suatu sistem. Sistem patriarkal merampas kebebasan perempuan, dan juga mengontrol tubuh perempuan. Misalnya, Pemerintah Kota Lhokseumawe (Aceh) memberlakukan larangan duduk ‘ngangkang’ bagi perempuan yang menumpang sepeda motor. Selain itu, penumpang perempuan yang duduk dibelakang juga dilarang memakai celana panjang, dan harus memakai rok. Larangan ini tentu saja menuai protes, apalagi dalam Islam tidak ada aturan perempuan harus pakai rok. Untuk informasi lebih lanjut terkait peraturan ini, silahkan klik 😉

Sistem patriarkal memunculkan pula paham misogynist, yakni kebencian atas perempuan. Misogynist terwujud dalam beberapa hal, seperti diskriminasi seksual, lelucon pornografi, fitnah terhadap perempuan, kekerasan terhadap perempuan, serta objektifikasi seksual perempuan. Misogynist ditemukan dalam mitologi-mitologi kuno, salah satunya mitologi Yunani (Kotak Pandora).

gambar dipinjam dari sini

Anthropological: Myth and Religion

Antropologi merupakan ilmu tentang manusia. Antropologi juga mempelajari mengenai sistem/mitos patriarki yang berasumsi bahwa ‘secara biologis, perempuan itu berbeda dengan laki-laki, sehingga mereka wajar terinferior’. Mitos patriarki ini disebarkan melalui teknik propaganda, dan ditanamkan sejak dalam keluarga.

Sementara itu, dalam mitologi Yunani, ada kisah tentang Kotak Pandora. Singkat cerita, Pandora dikisahkan sebagai manusia perempuan pertama di dunia, yang diciptakan oleh Hefaistos (anak Dewa Zeus). Pandora diciptakan untuk menghukum umat manusia, karena telah mencuri api dari Gunung Olimpus. Setelah diciptakan, Athena mengajarinya menenun dan menjahit serta memberinya pakaian, Afrodit memberinya kecantikan dan hasrat, Kharis memakaikan padanya perhiasan, lalu Hoirai memberinya mahkota, Apollo mengajarinya bernyanyi dan bermain musik, Poseidon memberinya kalung mutiara, Hera memberinya rasa penasaran yang besar, serta Hermes memberinya kepandaian berbicara serta menamainya Pandora, yang bermakna ‘mendapat banyak hadiah’.

Zeus lalu ‘memberikan’ Pandora kepada Epimetheus untuk dinikahi. Prometheus, saudara Epimetheus, berusaha memperingatkannya untuk tidak menerima Pandora, tetapi Pandora begitu mempesona sampai-sampai Epimetheus mau menikahinya. Pada hari pernikahan mereka, para dewa memberi hadiah berupa sebuah kotak yang indah dan Pandora dilarang untuk membuka kotak tersebut. Pandora pada suatu hari penasaran dan kemudian membuka kotak tersebut. Setelah dibuka, tiba-tiba aroma yang menakutkan terasa. Dalam kotak itu terdengar suara kerumunan sesuatu yang dengan cepat terbang ke luar. Pandora menyadari bahwa dia telah melepaskan sesuatu yang mengerikan, dan dengan segera menutupnya namun terlambat, Pandora telah melepaskan teror ke dunia. Rasa sakit, kegilaan, wabah penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, kelaparan, dan berbagai malapetaka lainnya telah bebas. Semua keburukan itu menyebar ke seluruh dunia, dan menjangkiti umat manusia. Pandora sangat menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Dia kemudian melihat ke dalam kotak, ternyata masih ada satu hal lagi yang tersisa di sana, yaitu harapan. Untuk sumber informasi dari kisah Kotak Pandora ada di sini.

Sudut penceritaan dalam Mitologi Pandora di atas, bila kita kritisi pastinya berpihak kepada laki-laki, dan menyiratkan adanya ketidakadilan terhadap perempuan yang dianggap sebagai hal yang wajar. Perempuan juga seakan-akan diciptakan, hanya sebagai bentuk hukuman terhadap umat manusia. Mitologi Pandora ini membuktikan bahwa paham misogynist itu telah diajarkan secara turun temurun.

Psychological

Patriarki dapat diibaratkan sebagai senjata psikis yang berfungsi untuk terus menekan dan menindas kelompok-kelompok minoritas, termasuk dalam hal ini penindasan atas perempuan. Lalu, muncul pertanyaan, sampai kapan penindasan ini terus berlangsung?, jawabannya tergantung dari cara kita dalam melihat dunia. Bila kita masih memiliki anggapan bahwa perempuan itu memang ‘berbeda’ dengan laki-laki, ada konsep inferior-superior, dan juga masih ada anggapan kalau ketidakadilan atas perempuan itu dinilai lumrah, maka sampai kapanpun budaya patriarki ini akan tetap eksis, ironi!

bahan bacaan: Sexual Politics (Kate Millett, 2000 (Chapter 2))

7 thoughts on “Sexual Politics

  1. Mas Yuli, maaf jika saya salah memahami bacaan, mohon luruskan.
    Dalam pembahasan ini, berarti Patriarki dianggap sebagai penghalang kebebasan wanita ya?
    Saya jadi ingat pembicaraan di kelas pertemuan lalu mengenai budaya meminta ijin, bagaimana tanggapan Mas Yuli tentang perempuan harus selalu meminta ijin apabila hendak melakukan sesuatu atau keluar rumah?
    Kemudian, untuk perbedaan sex dan gender, apakah Millet juga membahas mengenai penyimpangan gender?

    Terimakasih untuk ilmunya, Mas Yuli….

  2. Sampai kapan patriarki ada di negeri ini? Menarik ya, karena justru saat ada gerakan ‘penyataraan perempuan dan laki-laki’, saat itulah perempuan mengakui ia berbeda dari laki-laki. Tulisan Kate Millett ini memang menggiring opini pembaca untuk mengakui bahwa sistem patriarki masih menjadi sistem yang berjalan di manapun walaupun tidak semuanya (disebutkan di beberapa daerah, kalau tidak salah Swedia, tidak begitu).
    Sedikit tulisan dari sudut pandang laki-laki, saya rasa cukup menggelitik — mungkin beberapa laki-lakipun cukup gerah selalu dianggap bersalah dalam berusaha menguasai perempuan :)) –> https://www.google.co.id/amp/www.kompasiana.com/amp/lumbantoruan/diskriminasi-laki-laki-di-indonesia-sebuah-tinjauan-kritis_55287c2e6ea834ea5e8b458a
    Yah, masing-masing orang tentu berbeda baik kebutuhan fisik dan psikis, maka memang sewajarnya kita semua mendapatkan perlakuan yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan… selama masih manusiawi.😊

  3. Mas seruu..hehe. Renyah banget tulisannya, mudah untuk dimengerti. Terima kasih yo mas..
    Singkat saja mungkin ingin mengonfirmasi kembali prinsip dari patriarki itu sendiri : “male shall dominate female, and elder male shall dominate younger”. Beberapa waktu yang lalu sempat membahas bahwa kekerasan pada anak pun adalah bentuk budaya patriarki..hanya ketika ta cari lagi (googling sekilas), semua merujuk ke prinsip pertama, belum nemu yang elder male dominate younger. Tapi apa memang konteksnya bisa di bawa ke orang dewasa dan anak-anak secara universal ngga mas? atau itu hanya antara laki-laki yang elder ke laki-laki yang younger?

  4. Mengutip pernyataan Millett:By politics I mean powerstructured relationships, the entire arrangement whereby one group of people is governed by another, one group is dominant and the other subordinate…:.menarik memang mengkaji bagaimana kaitannya antara seksualitas yang dikaji dengan perspektif politik dapat menguraikan bagaimana sebuah gerakan feminisme yang merupakan gerakan revolusioner dapat dilakukan.. setidaknya itulah yang saya tangkap dari bacaan sexual Politics..Bagaimana dari perspektif politik Millet menerangkan bagaimana “power” atau kekuasaan dilanggengkan dengan cara terus menerus menanamkan dua jenis kelamin yang memiliki tatanan cara dasar yang meliputi tiga kategori yaitu temperamen sebagai komponen psikologis, peranan sebagai komponen sosiologis, dan status sebagai komponen politik. Ketiga tatanan cara yang mendasar dari masing-masing jenis kelamin tersebut saling berketergantungan dan membentuk semacam rantai. Misalnya: perempuan, temperamen sebagai komponen psikologis sabar dan penyayang, peranannya sebagai ibu yang merupakan komponen sosiologis dan status sebagai seorang ibu merupakan komponen politik misalnya dengan statusnya sebagai seorang Ibu maka perempuan berhak mendapatkan cuti hamil. Namun yang pasti pemikiran Millett telah meletakkan dasar tentang gerakan feminisme yang lebih luas lagi tidak sekedar menuntut adanya ruang bagi perempuan untuk beremansipasi melainkan lebih dari itu untuk melihat bagaimana satu kelompok mendominasi kelompok yang lainnya.

  5. Menarik bila yang membahas mengenai sexual politics ini ialah laki-laki. Kebetulan Mas Yuli nih yang kebagian bacaannya hehehe. Soalnya jika perempuan yang membahas masalah ini, akan dianggap wajar karena seringkali perempuan lah yang merupakan korban dari sistem patriarki. Kira-kira kalau menurut Mas Yuli sendiri, sebagai pihak yang selalu dianggap lebih daripada kaum perempuan, apakah menikmati sistem patriarki ini? Atau justru Mas Yuli terbebani karena sebagai laki-laki harus selalu dituntut untuk lebih daripada perempuan?
    Oh iya satu lagi, Mas, kira-kira adakah akibat sosial yang timbul jika kita melakukan penyimpangan gender?

  6. Sebagai tambahan mas Yuli, sebenarnya juga banyak penindasan yang dilakukan terhadap kaum minoritas terutama perempuan adalah bentuk dari frustasi yang dirasakan oleh kaum dominan. Ketika kaum dominan tidak mampu menaklukan para perempuan, maka sebenarnya salah satu cara mudah yang bisa mereka lakukan adalah menciptakan fantasi dan gambaran-gambaran yang bisa merendakan perempuan itu sendiri. Dengan demikian lambat laun para perempuan itu akan merasa rendah dengan sendirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *