The Scapegoats Theory

gambar dipinjam dari sini

semangat belajar!, yes!, review kali ini berasal dari Chapter 15 Buku ‘The Nature of Prejudice,’ karya Gordon W. Allport (1954). Salah satu isi dalam chapter tersebut mendefinisikan prejudice sebagai ‘sikap memusuhi orang lain, termasuk sikap memusuhi kelompok di mana orang tersebut bergabung.’ Biasanya prejudice ini dialamatkan ke kelompok-kelompok minoritas.
Untuk istilah ‘minority’ sendiri dapat mengacu pada beberapa kelompok yang anggotanya lebih sedikit bila dibandingkan dengan kelompok lainnya. Istilah ‘minority’ lainnya bisa dikaitkan dengan aspek psikologis. Fenomena-fenomena minoritas ini menyiratkan adanya stereotipe dari kelompok dominan, sehingga rentan dapat memunculkan kemarahan bagi anggota minoritas. Lalu, ada dua jenis dari minoritas, yakni ‘statistical/actuarial minorities’ dan ‘psychological minorities.’ Untuk ‘statistical/actuarial minorities’ merupakan minoritas yang tidak menjadi objek prasangka. Contohnya, anak-anak yang masuk sekolah keperawatan termasuk dalam jenis minoritas ini. Sementara untuk ‘psychological minorities’ itu mengalami diskriminasi yang menyebabkan mereka melakukan perlawanan, dan contohnya bisa berupa: para imigran, orang kulit hitam serta para penganut agama tertentu (non muslim). Anggota-anggota dari ‘psychological minorities’ ini rentan menjadi objek penghinaan dan kebencian, yang mana disebut sebagai ‘scapegoats.’ Faktor sosiokultural mempunyai pengaruh pula pada anggota minoritas yang mengalami ‘scapegoats.’

gambar dipinjam dari sini

Lalu, terkait dengan konteks imigran, contohnya: lebih dari satu juta orang imigran tercatat pernah berdatangan di Amerika Serikat pada tahun 1905, 1906, 1907, 1910, 1913 dan tahun 1914, sehingga memunculkan permasalahan baru terkait isu minoritas. Namun, setelah berjalan beberapa tahun, sebagian besar imigran ini mampu beradaptasi dan menjadi orang Amerika. Justru nasib yang berbeda dialami oleh generasi kedua dari para imigran tersebut. Asimilasi yang terjadi hanya sebagian/tidak sepenuhnya, diantara budaya kaum imigran dengan budaya masyarakat pribumi. Asimilasi sendiri dapat dipahami sebagai pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli, sehingga membentuk kebudayaan baru. Proses asimilasi itu ditandai oleh pengembangan sikap-sikap yang sama, yang walaupun terkadang bersifat emosional, bertujuan untuk mencapai kesatuan, atau paling tidak untuk mencapai integrasi dalam organisasi dan tindakan.
Banyak dari generasi kedua para imigran ini malah menggunakan bahasa asal/asli mereka ketika berdiskusi di rumah, karena faktor lemahnya pemahaman akan bahasa Inggris. Selain itu, mereka juga merasa ‘foreign’ meskipun telah menetap lama di Amerika. Status inferior secara sosial menghantui mereka. Para sosiolog juga menemukan relasi antara tingkat kejahatan dengan ketidakmampuan mereka dalam menyesuaikan diri. Fenomena ini akhirnya memunculkan permasalahan yang serius antara kelompok-kelompok minoritas (orang-orang negro, imigran Yahudi ataupun Mexico) dengan kelompok mayoritas, bahkan kelompok mayoritas menyatakan perbedaannya secara tegas melalui pernyataan, ”we shall never accept you as one of us.”
Objek penghinaan dan penolakan/scapegoats ini tidak diarahkan untuk masyarakat dominan yang berkulit putih bersih, tetapi diarahkan untuk mereka yang telah mengalami stereotipe, seperti kelompok etnis dan agama tertentu yang tinggal di suatu tempat. Satu hal yang perlu diketahui bahwa pemberian status dan stereotipe pada kelompok tertentu ini, cenderung bersifat permanen dan stabil.
Historical Methods
Ada pertanyaan menarik yang dapat ditarik, yakni mengapa kelompok etnis, ras dan agama tertentu kerapkali mengalami diskriminasi dan penghinaan?, bila dibandingkan dengan kelompok lainnya yang tidak mengalami hal serupa. Maka untuk menjawab pertanyaan ini, dibutuhkan metode penelusuran sejarah, untuk mencari tahu alasan-alasan yang melatarbelakangi mengapa scapegoats ‘datang’, dan ‘pergi’. Prasangka-prasangka yang muncul atas orang-orang Negro di Amerika Serikat, dapat ditelusuri pula melalui metode seperti ini.

gambar dipinjam dari sini

Jews as Scapegoats
Adanya istilah anti-semitism, yakni sikap permusuhan atau prasangka terhadap kaum Yahudi (mulai dari level individu hingga lembaga), yang terwujud melalui bentuk penganiayaan/penyiksaan. Fenomena anti-semitism yang terkenal terjadi pada masa Adolf Hitler dengan ideologi Nazisme, yang mana melakukan pembunuhan massal terhadap kaum Yahudi di Eropa.
Hitler waktu itu menjadikan orang-orang Yahudi ‘scapegoat’, dengan propagandanya berupaya menghidupkan kembali nasionalisme bangsa Jerman, dan berhasil membuat anti-semitism tersebut. Dengan bantuan dari gereja, Hitler akhirnya juga mampu mempersatukan Jerman. Lalu, ada pendapat mengapa Jerman membenci Yahudi. Menurut teori konspirasi, kaum Yahudi ‘menjual’ Jerman ke musuh-musuh Jerman pada waktu Perang Dunia (PD) I, agar mendapatkan tanah Palestina yang dikuasai oleh Turki yang mana satu blok dengan Jerman. Orang-orang Yahudi berpikir bahwa kekalahan Jerman lebih menguntungkan daripada kekalahan Inggris, karena dengan orang-orang Yahudi menjalin kerjasama dengan Inggris, maka tanah Palestina dapat diberikan ke mereka, jika Inggris dan sekutunya menang perang.
Oleh karena itu, Hitler setelah PD I beranggapan bahwa kaum Yahudi ini pengkhianat yang harus diusir dan dilenyapkan dari Eropa. Untuk informasi lebih lengkap terkait sejarah Hitler dan Yahudi, silahkan klik 😉 Sementara itu, penilaian negatif atas kaum Yahudi juga disampaikan oleh Gordon dalam Chapter 15 di Buku ‘The Nature of Prejudice’ tersebut, bahwa kaum Yahudi diidentikkan sebagai ‘bi-loyalty’, karena dianggap kurang patriotik dan superego. Lalu, konklusi sekaligus pembelajaran yang dapat diambil dalam review ini ialah perlunya historical perspective atas isu minoritas, agar kita dapat memahami alasan-alasan yang mendasari kenapa seseorang/suatu kaum bisa menjadi scapegoat/objek permusuhan.

bahan bacaan: The Scapegoats Theory (Gordon W. Allport, 1954)

4 thoughts on “The Scapegoats Theory

  1. Wah.. Wawasan baru buat saya, saya kira scapegoat hanyalah tentang perilaku mengkambinghitamkan seorang individu atau kelompok tertentu, ternyata scapegoat itu juga dapat berupa prejudice atau penolakan ya mas?

    Mengenai ketidakmampuan generasi kedua dari imigran di amerika yang tidak mampu menyesuaikan diri dan membaur dengan warga pribumi disana dan memunculkan permasalahan baru seperti penolakan atau scapegoating para kaum minoritas disana, apakah bisa kemudian dikatakan bahwasannya perlakuan diskriminasi terhadap kelompok minoritas tersebut bukan murni karena masyarakat mayoritas atau pribumi di amerika tidak mau nenerima kehadiran kelompok minoritas tetapi juga karena perilaku kelompok minoritas itu sendiri yang cenderung membedakan dirinya dengan kaum mayoritas dan tidak mau melebur atau membaur dengan kelompok mayoritas seperti tidak mau menggunakan bahasa inggris
    Mohon pencerahannya mas 😀

  2. Yang kutangkap dalam artikel Allport berdasarkan review Mas Yuli ini, sesungguhnya ada kaitan erat dengan kapitalisme ya? Jadi kelompok minoritas ini dibentuk oleh kelompok yang memiliki kuasa. Kaum elit mensubordinatkan kelompok lain untuk semakin melanggengkan atau mempertahankan kuasa mereka.
    Kemudian, ada yang menarik dimana dikatakan bahwa stereotipe dan status yang disematkan kepada kelompok minoritas ini sifatnya stabil dan permanen. Memang apa yang sudah mengakar sulit untuk dicabut, tapi aku pribadi tidak setuju karena apapun yang ada di dunia ini mestinya dinamis, mengikuti perkembangan zaman. Buku ini ditulis pada tahun 1950an, sehingga rasanya kembali tidak cukup merepresentasikan keadaan kita saat ini dimana nilai-nilai tertentu mulai bergeser, walaupun tidak sepenuhnya. Yahudi tetap dibenci oleh sebagian kelompok yang lain, kulit hitam tetap menjadi warga kelas dua di Amerika Serikat, dan perempuan tetap berada dibawah laki-laki. Namun, gebrakan-gebrakan kecil mulai terlihat, bukan? Misalnya, Presiden Obama, seorang kulit hitam menjadi presiden di Amerika Serikat dan pemimpin wanita mulai bermunculan dimana-mana.
    Bahkan, memahami mengapa suatu kelompok dijadikan kelompok lainnya sebagai “scapegoats” mungkin bisa menjadi titik awal bagi kita untuk menghentikan kebencian tersebut, dengan melihatnya dari kedua sisi baik kelompok yang dominan dan kelompok yang termarginalkan tersebut.

  3. Semester yang lalu sempat membahas mengenai diskriminasi yang terjadi terhadap beberapa golongan masyarakat, khususnya di Amerika. Ternyata memang kasus penganiayaan terhadap kaum yahudi jauh lebih tinggi dibandingkan penganiayaan terhadap kaum Muslim. Berikut link nya : https://assets.documentcloud.org/documents/3110202/SPECIAL-STATUS-REPORT-v5-9-16-16.pdf

    Hanya saja mas, maaf ini, saya kurang faham dengan gambar pada bagian historical methods. Mungkin nanti bisa lebih dideskripsikan ya, supaya lebih jelas 🙂

  4. Review yang menarik Mas. Berdasarkan penjelasan mas Yuli, imigrant yang datang ke Amerika Serikat pada tahun 1905, 1906, 1907, 1910, 1913 dan tahun 1914. Apakah ada perbedaan imigran yang datang pada tahun yang berbeda-beda itu? Apakah permasalahan yang dihadapi pada tahun- tahun tersebut selalu sama? Apakah permasalahan yang dihadapi terkait dengan imigran yang berasal dari negara/daerah yang berbeda itu sama?. Memperbandingkan kondisi di Indonesia, pada penelitian terjadinya konflik sosial di Indonesia menunjukkan tidak semua pendatang menyulut terjadinya konflik sosial. Ada karakteristik etnis maupun suku tertentu misalnya yang lebih rentan menyulut terjadinya konflik. Apakah kondisi tersebut juga terjadi di Amerika Serikat berdasarkan kajian sejarah yang dilakukan disana? Misalnya apakah prejudice dan scapegoats juga dialami oleh imigran dari Eropa misalnya? Rasa penasaran saya berikutnya tentang asimilasi.mas menjelaskan berdasarkan chapter ini ” Asimilasi yang terjadi hanya sebagian/tidak sepenuhnya, diantara budaya kaum imigran dengan budaya masyarakat pribumi. Asimilasi sendiri dapat dipahami sebagai pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli, sehingga membentuk kebudayaan baru. ” pertanyaan saya apakah proses asimilasi yang terjadi melalui 4 macam proses sebagaimana ada dalam Darwinian tentang evolutionary theory yanh terdiri dari kompetisi, konflik, akomodasi dan asimilasi? Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *