Minoritas dan Isu-isu terkait

gambar dipinjam dari sini

Semangat Pagi!, yap, tulisan kali ini akan membahas mengenai konsep minoritas  dan berbagai interpretasi yang muncul atas isu tersebut. Salah satu hal yang perlu kita pegang bahwa fenomena minoritas itu ada, dan diakui keberadaannya oleh setiap orang. Minoritas sendiri dapat dipahami sebagai bagian dalam masyarakat, yang mana anggota-anggotanya kerapkali menghadapi prasangka, diskriminasi, keterasingan maupun penganiayaan dari kelompok mayoritas (Harris, 1959). Lalu, menurut Louis Wirth (1941, Sosiolog dari Amerika), anggota minoritas itu sedikit dihargai, ataupun dapat dikatakan dikucilkan dalam konteks berpartisipasi. Minoritas dikonsepsikan pula sebagai inferior, orang asing (alien) bagi masyarakat, dan juga kelompok yang ‘teraniaya.’

Selanjutnya, Naira Marmaryan (2010) menyebut ada beberapa kelompok dari minoritas, diantaranya: ‘ethnic/national minority’, ‘religious minority’, ‘racial minority’, ‘gender minority’, ‘age minority’, ‘sexual minority’, ‘economic minority’,  ‘language minority’, ‘disabled minority’ dan lain sebagainya. Namun untuk konteks artikel ini, fokusnya pada ‘ethnic/national minority.

gambar dipinjam dari sini

Ethnic/National Minority’ ini bisa disebut sebagai bagian dari suatu bangsa, bisa pula tidak. Untuk contohnya, orang-orang Kurdi, Yazidi dan Gipsi. Peneliti Italia bernama Francesco Capotorti (1991) menyatakan ‘ethnic minorities’ ini sebagai bagian dari populasi dan tidak menduduki posisi dominan dalam suatu negara; atau anggota dari warga negara yang mencerminkan adanya etnisitas, agama dan bahasa tertentu, yang mana mereka memiliki solidaritas dalam hal memelihara budaya, agama dan bahasanya. Minoritas tersebut memiliki kesamaan ras, budaya dan agama, namun jumlah anggotanya lebih kecil dibandingkan masyarakat sekitar.

Status minoritas umumnya terkait dengan hubungan kuantitas/jumlah, namun status minoritas dapat pula dilekatkan pada seseorang yang tinggal dalam jangka waktu yang lama di kelompok/di daerah tertentu yang terasingkan. Oleh karena itu, untuk menghindari konflik dan untuk membangun toleransi antar sesama (kelompok dominan dengan minoritas), maka kita perlu memahami dan menerapkan ‘pluralisme budaya’. Hal ini dapat tercapai bila muncul dukungan dan kontribusi pula dari pihak pemerintah, melalui penyebaran informasi terkait apresiasi dan penerimaan akan berbagai budaya yang hadir di tengah masyarakat.

Sementara itu, anggota-anggota minoritas ini kerapkali menghadapi akulturasi, bilingualisme, alienasi, determinisme budaya, etnosentrisme, etno-fobia dan culture shock. Hal ini terjadi karena mereka merasa ‘others’ ketika berinteraksi di masyarakat. Pembahasan mengenai hal-hal yang dihadapi anggota minoritas tersebut, akan dibahas lebih lanjut. Pertama, untuk akulturasi sendiri merupakan suatu proses yang dilalui oleh anggota-anggota dari kelompok budaya tertentu, yang mana menerima dan mengolah sistem kepercayaan, perilaku, sikap, nilai ataupun bahasa dari kelompok budaya lain.

Akulturasi ini biasanya dilakukan oleh kelompok minoritas dengan mengolah pola-pola dari kelompok dominan, namun tidak menutup kemungkinan terjadi timbal balik, maksudnya kelompok dominan juga menerima dan mengolah pola-pola khas dari kelompok minoritas. Akulturasi tersebut terjadi melalui komunikasi antar budaya, dan outputnya berupa sesuatu yang baru. Akulturasi bisa terjadi pada tata bahasa. Misal, dalam bahasa Indonesia ataupun Jawa, ada istilah kata serapan. Kata-kata serapan ini sebenarnya berasal dari bahasa asing yang kemudian diterapkan, seperti: ‘sistem’ (system), ‘komputer’ (computer), ‘idealisme’ (idealism), sepur (spoor) dan lain sebagainya.

Untuk hasil akulturasi bisa muncul pula pada masakan ataupun makanan, misalnya: semur dan perkedel. Untuk masakan semur berasal dari Belanda (smoor) yang berarti rebusan. Smoor di Belanda sendiri merupakan daging yang direbus bersama tomat dan bawang. Konteks di Indonesia, semur berkembang dari hanya sekedar rebusan daging sapi dengan tomat dan bawang, menjadi masakan kaya bumbu dengan berbagai bahan dasar alternatif. Lalu, untuk perkedel atau kadang disebut dengan begedel ini, terbuat dari bahan yang umumnya dari kentang ditumbuk. Namun, perkedel juga bisa dibuat dari tahu, ikan dan jagung. Perkedel ini berasal dari ‘frikadeller’, gorengan berbahan kentang dan daging dari Belanda. Makanan ini sendiri sejatinya diadaptasi Belanda dari gorengan daging cincang asal Denmark. Untuk contoh lainnya terkait akulturasi masakan atau makanan, silahkan kunjungi 😉

gambar dipinjam dari sini

gambar dipinjam dari sini

Selanjutnya, isu kedua, bilingualisme. Anggota-anggota minoritas memiliki potensi pandai berbicara dalam dua bahasa, dengan tetap menjaga bahasa asalnya sebagai bahasa induk/ibu (the mother tongue). Mereka belajar dan menggunakan ‘bahasa dominan’ sebagai perantara berkomunikasi dengan masyarakat sekitar. Ketiga, alienation. Fenomena alienasi juga tertimpa oleh anggota minoritas. Konsekuensinya, adanya kelompok yang terisolasi, karena sulitnya beradaptasi dengan budaya, perilaku dan tradisi mainstream.

Minoritas berkaitan pula dengan konsep cultural determinism. Konsep ini terkait dengan kode-kode perilaku yang dipengaruhi oleh lingkungannya dan bukan berasal secara genetik. Anggota minoritas juga rentan dengan isu etnosentrisme. Etnosentrisme ini dapat diartikan sebagai tingkatan di mana individu-individu menilai budayanya sendiri superior, sedangkan budaya orang lain sebagai inferior (Samovar dan Porter, 2001). Isu etnosentrisme bisa memunculkan konflik, jika kelompok minoritas/mayoritas memandang budaya lain melalui kacamata yang sempit, dan menilai apapun inferior disesuaikan standar mereka sendiri. Etnosentrisme ini dapat menyebabkan munculnya rasisme (kategorisasi orang berdasarkan keadaan fisik: warna kulit, rambut, struktur wajah, bentuk mata) dan seksisme (kategorisasi orang berdasarkan jenis kelamin). Untuk menghindari konsekuensi dari dampak etnosentrisme, kita patut mengingat kembali nasehat St. Thomas Aquinas sekitar satu abad yang lalu, yang berbunyi ‘beware of the man of one book.’

Untuk isu minoritas lainnya bisa berupa ethno-phobia/xenophobia. Isu ini berbentuk prasangka terhadap kelompok dominan yang berbeda karakteristiknya. Prasangka merupakan wujud dari kebutaan kultural (cultural blindness), karena menghalangi seseorang untuk melihat realitas secara akurat. Untuk salah satu contohnya bisa berbentuk menggosip atau ngerumpi.

Isu-isu minoritas yang berkonteks negatif tersebut memang secara konseptual perlu adanya penanganan, agar kelompok minoritas ini dapat berintegrasi, berpartisipasi serta berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi, bila dikaitkan dengan fakta yang terjadi, mereka justru kerapkali dimarjinalkan oleh budaya/pihak dominan. Contoh dalam konteks Pilkada 2017, yakni adanya penentangan calon pemimpin kepala daerah yang beragama non muslim, oleh organisasi-organisasi masyarakat berbasis Islam. Masyarakat Indonesia memang mayoritas beragama Islam, namun kita perlu memberi ‘ruang’ bagi siapapun warga negara untuk maju mencalonkan diri sebagai pemimpin.

Pada titik ini, media seharusnya memegang peranan penting, karena media apapun itu berpotensi mampu menyebarkan informasi-informasi yang positif terkait kelompok minoritas ini dan bukan sebaliknya, sehingga harapannya dapat merubah pola pikir diskriminatif budaya dominan atas minoritas. Selain itu, kita perlu untuk ‘bercermin’ dan menyadari, bahwa perbedaan itu memang benar adanya dan tidak untuk diperdebatkan, sehingga semangat ‘unity in diversity’ bisa benar-benar terwujud, semoga!

Bahan Bacaan: Minority Concept and Related Issues (Naira Marmaryan, 2010)

3 thoughts on “Minoritas dan Isu-isu terkait

  1. Terkait dengan kasus penentangan calon pemimpin beretnis Tionghoa di DKI Jakarta yang digembor-gemborkan oleh media memang nyatanya mampu menstimulus memori khalayak akan stereotip-stereotip etnis tersebut yang telah terbentuk sebelumnya dan argumen tentang priming stereotipe oleh media terhadap khalayak tidak dapat dipatahkan lagi ketika baru-baru ini kasus terkait terjadi di Purbalingga. Kasus dugaan penistaan agama yang dituduhkan kepada Gubernur DKI Jakarta nonaktif rupanya terbawa hingga ke soal ujian sekolah. Kasus ini dijadikan soal yang diujikan di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah 1 Purbalingga. Yakni dalam soal nomor 48 ujian mata pelajaran tarikh, ditanyakan “Siapakah nama calon Gubernur Jakarta yang melecehkan Al-Quran saat ini?” Soal pilihan ganda itu menyediakan jawaban yakni, a. Paijo b. Ahik c. Ken Arok d. Basuki (ahok). Tepatnya, ujian pelajaran tarikh atau sejarah itu adalah untuk kelas IX yang dilaksanakan pada Jumat, 2 Desember 2016.

    Kasus kedua adalah peristiwa pemukulan kepada seorang pria keturunan Tionghoa, Andrew Budikusuma, oleh sekelompok orang tidak dikenal di dalam Bus Transjakarta ketika ia hendak bertolak dari Halte Kuningan Barat menuju Halte Pluit, sekitar pukul 20.30 WIB. Dia menceritakan mulanya empat orang pria masuk ke dalam Bus Tranjakarta yang ditumpanginya di Halte Semanggi. Kala itu, kondisi bus sedikit lengang, setelah masuk ke dalam bus, menurut Andrew, keempat pria itu langsung berteriak menyebutkan nama Ahok, nama yang merupakan sapaan akrab Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Kemudian keempat orang itu langsung menjadikan Andrew sebagai sasaran. Andrew dicaci dengan berbagai ucapan rasis, kemudian ditantang untuk berkelahi.
    Andrew yang terus mencoba menghindar, malah menerima pukulan di bagian wajah. Melihat kejadian itu, penumpang Bus Transjakarta lainnya langsung menarik Andrew dari kerumunan empat orang tersebut. Andrew pun langsung dibawa ke Rumah Sakit Siloam, Jakarta Barat untuk mendapatkan penanganan medis.

    sumber :
    https://www.merdeka.com/peristiwa/kasus-penistaan-agama-di-soal-ujian-muhammadiyah-ini-reaksi-ahok.html

    http://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2016/08/30/mirip-ahok-andrew-babak-belur-dikeroyok-massa-di-bus-transjakarta/

    #SIK041 #041

  2. Review ini bagus Mas! Sebenarnya, karakteristik minoritas yang cenderung unik itu justru bisa melengkapi apa yang mayoritas tidak punya sehingga semestinya diberikan ruang dan bukan dibungkam. Berbahaya memang kalau masyarakat terlalu nyaman hidup di lingkungan yang homogen, bisa berdampak pada sulitnya untuk menerima perbedaan…
    Pada akhirnya baik kelompok minoritas dan mayoritas harus saling membaur dan mendukung. Bukan hanya masyarakat harus memberi ruang, ataupun media membantu menyebarkan informasi positif terhadap kaum minoritas, tetapi kaum minoritas itu sendiri juga harus berani menyuarakan dan memperjuangkan haknya sebagai warga negara yang tidak berbeda dengan masyarakat lainnya…

  3. Baru tau perkedel ada juga di luar negerii 😉 Mm, hubungan mayoritas minoritas pada akhirnya menurutku ga lepas dari kondisi sosial demografis. Misal,di papua ada peraturan bahwa gub papua harus orang asli papua. Dari sudut pandangku,tentu kurang tepat kalau ini dikatakan meng-others-kan masyarakat yang non papua (minoritas). Apalagi membatasi ruang bagi orang selain papua. Karena dibalik kategori mayoritas minoritas itu juga ada nilai-nilai sosial yg berkembang di masyarakat setempat yang tak bisa dilepaskan,dan harus dihargai. Misal terkait dengan gubernur orang asli papua itu ternyata bentuk proteksi nilai-nilai di papua,dan juga bentuk rekognisi (pengakuan) bagi hukum adat setempat. Bahkan tak hanya nilai-nilai sosial, dalam hal lain mungkin lebih sensitif lagi, yakni terkait dengan ideologi. Apapun itu,sangat sepakat dengan semangat bahwa yang mayoritas merangkul minoritas,yang minoritas pun menghargai mayoritas 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *