kampanye jender

gender # profesiPertama, berawal dari keprihatinan tentang masih banyaknya kekerasan berbasis jender yang terjadi di Semarang pada khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya. Lalu kedua, berasal dari keprihatinan pula akan masih adanya kekerasan simbolik yang dilakukan oleh media massa, dimana dialamatkan ke perempuan dan anak, korban kekerasan seksual, melalui tulisan-tulisan seperti ‘digagahi,’ ‘digilir,’ ‘dikerjai’ ataupun ‘digarap.’ Mereka disatu sisi telah mengalami kekerasan seksual secara fisik maupun non fisik, disisi yang lain mereka juga mengalami kekerasan lagi, berupa kekerasan simbolik tersebut, ironi! Berikutnya ketiga, bersumber dari keprihatinan juga akan adanya penggunaan endorser (terutama perempuan) dalam dunia periklanan, yang mana tidak sesuai dengan produk/jasa yang diiklankan.

Next, keempat, berpijak pada kegelisahan akan adanya anggapan masyarakat kalau profesi-profesi tertentu masih dilekatkan pada jenis kelamin tertentu pula. Menurut saya, siapapun (baik laki-laki maupun perempuan) berhak bekerja dalam bidang apapun, selama itu halal. Selanjutnya kelima/terakhir, berdasar dari keinginan untuk memperjuangkan pentingnya literasi jender bagi kehidupan, maka saya melalui mata kuliah yang diampu (komunikasi jender), menugaskan mahasiswa untuk mengadakan kampanye jender, setidaknya untuk di lingkungan kampus/Fakultas TIK.

yap, saya menugaskan para mahasiswa untuk berkampanye jender ini dikarenakan mereka sebagai agent of change, diharapkan bisa mempengaruhi dan merubah sedikit demi sedikit pola pikir masyarakat yang ‘terlanjur’ patriarkis, minimal bisa berkampanye ke teman kuliah dan orang-orang terdekat mereka (sahabat serta keluarga). sementara itu, untuk inti dari kegiatan kampanye jender ini sendiri berupa penempelan-penempelan poster, dimulai selasa kemarin (30 Juni) dengan beragam tema jender, seperti tema: ‘anti patriarki’, ‘feminisme’, ‘maskulinitas’, ‘kekerasan berbasis jender’, ‘mitos kecantikan’ serta tema ‘jerat kapitalisme atas perempuan.’ untuk harapan saya akan project ini, yakni semoga siapapun yang melihat kampanye tersebut, bisa menjadi individu-individu yang sensitif jender.

KEKERASAN BERBASIS GENDER MITOS KECANTIKAN

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *