komodifikasi tontonan lebay

komodifikasi televisiLagi, lagi dan lagi! Yap, tercatat untuk kesekian kalinya, ada stasiun televisi yang lagi-lagi menayangkan program siaran yang ‘berlebihan’ yang mana bukan ditujukan untuk kepentingan publik, sehingga tidak memberikan manfaat ke publik sebagai pemilik utuh frekuensi. Selain itu, program tersebut juga disiarkan dalam durasi waktu siar yang tidak wajar (lebih dari empat jam), serta ditayangkan pula pada saat yang tidak tepat secara konteks, karena beriringan dengan adanya tragedi kemanusiaan di Indonesia, seperti longsor di Banjarnegara dan musibah jatuhnya Pesawat Air Asia QZ8501.

Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, RCTI pada selasa kemarin (30 Desember 2014) tercatat tetap menayangkan live ‘Ngunduh Mantu Raffi-Gigi,’ yang mana dimulai sekitar 18.00-22.30 WIB, padahal beberapa saat sebelum acara ‘ngunduh mantu’ tersebut digelar, ditempat lainnya ada informasi yang membuat bangsa Indonesia berduka, yakni temuan Tim Basarnas atas puing-puing beserta beberapa jasad penumpang/awak Pesawat Air Asia QZ8501 di sekitar Selat Karimata, perairan Pangkalan Bun, Kalteng.

Realita ini dapat dipersepsikan bahwa baik itu pihak Raffi-Gigi, keluarga Raffi-Gigi maupun RCTI, tidak memiliki kepekaan dan rasa empati atas peristiwa Air Asia tersebut. Atau dengan kata lain, melalui tayangan live ‘ngunduh mantu’ ini, mereka merepresentasikan kegembiraan ditengah-tengah kesedihan, materialisme, hedonisme, dan juga sikap tak acuh atas duka bangsa, khususnya duka keluarga korban Air Asia.

Padahal sebelumnya, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pernah melayangkan sanksi administratif ke RCTI berupa surat peringatan/teguran tertulis, karena menayangkan secara berlebihan (lebay) program acara tentang persalinan Ashanty pada 14 Desember 2014. KPI waktu itu menegur RCTI agar tidak lagi melecehkan frekuensi publik yang sejatinya hanya ditujukan untuk kepentingan bisnis segelintir orang saja (pihak RCTI tentunya, dan Anang-Ashanty), bahkan Komisioner KPI Agatha Lily pernah mengatakan bahwa tayangan berlebihan dan berdurasi panjang berarti merampas hak masyarakat untuk mendapatkan tontonan lainnya melalui layar kaca (http://www.jpnn.com/read/2014/12/28/277965/Siaran-Live-Artis-Dinilai-Hanya-Keruk-Keuntungan-). Jika dilihat pula secara kontekstual, tayangan persalinan ini dirasa tidak tepat, karena bangsa Indonesia sedang berduka atas tragedi longsor Banjarnegara yang terjadi pada 12 Desember 2014.

Selain itu, kalau dirunut lebih ke belakang, KPI sebenarnya sudah pernah melayangkan protes ke RCTI dan Trans TV, karena tayangan ‘lebay’ live pernikahan Raffi-Gigi. Namun kenyataannya, lembaga penyiaran ini tidak kapok (atau kata lebih tepatnya, ‘tidak peduli’) atas teguran itu, terbukti dengan keukeuh menampilkan program ‘ngunduh mantu’ tersebut.

Komodifikasi

Selanjutnya, tontonan pernikahan/ngunduh mantu artis dan kelahiran di televisi, nampaknya akan menjadi komoditas yang terus diperdagangkan oleh media massa dan juga bisa menjadi tren di masa yang akan datang, selama sanksi yang diberikan oleh KPI, tidak bisa memberikan efek jera bagi pihak media.

Sementara itu, tontonan ini sendiri menurut Guy Debord didalam bukunya ‘The Society of The Spectacle,’ dapat diartikan sebagai bentuk manipulasi dan eksploitasi oleh media atas kebutuhan hidup manusia, sebagai sarana untuk memperbesar keuntungan. Tontonan-tontonan tersebut muncul, dikarenakan tidak terlepas dari adanya unsur kompetisi, kemenangan, kesuksesan dan akhirnya berujung memperoleh uang. Jadilah sinergi antara produser, artis dan media sebagai mesin-mesin kapitalis yang terus mengeruk keuntungan (2002: 11).

Bila merujuk dari pernyataannya Guy Debord di atas, dikaitkan dengan konteks tulisan ini, maka bentuk ekploitasi media atas kebutuhan hidup manusia terjadi dalam momen-momen seperti pernikahan/ngunduh mantu artis dan kelahiran, yang mana sejatinya media itu mengeruk ‘laba’ lewat rating dan banyaknya kue iklan yang masuk ke program acara ‘lebay’ tersebut. Hal ini terbukti dari tayangan resepsi ‘Raffi-Gigi’ di Bali yang disiarkan RCTI (25/10/2014), yang memperoleh rating dan share tertinggi, yakni 5,8 dan 27,8. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari program ‘Mahabharata’ yang berada di posisi ke-2 dengan rating 4,4 dan share 17,2 (http://kabarartisselebriti.blogspot.com/2014/10/siaran-resepsi-raffi-nagita-di-bali.html). Tingginya rating mencerminkan produk media laku di pasar (Adorno dan Horkheimer dalam Durham dan Kellner, 2001: 71).

Atas dasar realitas itu, mengutip Guy Debord, ada dogma dalam kapitalisme media yakni ketika memproduksi suatu komoditas (komodifikasi) harus disertai dengan memproduksi tontonan, sehingga semua tontonan menjadi komoditas media (2002: 12), tidak terkecuali tontonan artis yang lebay. Lalu, kapan tayangan berlebihan itu tidak terulang lagi?, bukan Saya, Anda atau bahkan KPI yang mengetahuinya, tetapi hanya mereka (pemilik dan praktisi media) yang tahu akan jawabannya, ironi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *