Solusi Support Group

Solusi Support GroupKorban kekerasan dalam rumah tangga (KdRT) berinisial Smh berbagi pengalamannya. “Saya bercerai dengan suami, karena orang ketiga yang masuk ke dalam kehidupan kami, sehingga merubah cara suami memperlakukan saya. Dia kerapkali ‘menempeleng’ kepala saya, bahkan dampak kekerasan tersebut menyebabkan kulit kepala saya pernah dijahit.”

Faktor kekuatan finansial yang dimiliki suami lebih tinggi dibanding dengannya, lanjut Smh, sempat menyebabkan ia bingung dalam menyikapi kekerasan yang dialaminya, bila suaminya sampai menelantarkan dirinya beserta keempat anaknya.

Namun selanjutnya, kata Smh, ia memutuskan mulai melaporkan kasusnya ke pihak berwajib, tetapi ada hambatan yang dialami, berupa lambatnya kinerja aparat didalam menindaklanjuti pengaduannya. “Hal ini terjadi karena saya waktu itu datang sendirian ketika melaporkan kasus tersebut,” keluhnya.

Perlakuan berbeda dialaminya, ujar Smh, ketika Smh minta bantuan ke lsm, untuk bersama-sama melaporkan kasus ini ke aparat, dimana kasusnya dapat dengan segera diproses. “Hasil dari persidangan, yakni mantan suami menerima hak asuh anak pertama dan kedua, kalau saya kebagian ketiga dan keempat.”

Setelah didampingi kasusnya secara hukum oleh LSM LRC-KJHAM, Smh lalu mengikuti terapis secara kelompok (Support Group) yang diadakan oleh lsm tersebut. Dengan bergabung di Support Group, ia dapat bertemu dengan para anggota lainnya yang sama-sama pernah menjadi korban kasus kekerasan jender.

Smh mengaku berani secara terbuka menceritakan pengalaman traumatisnya, karena persepsi yang sama berupa perasaan senasib sepenanggungan diantara anggota. “Apalah jadinya hidup saya, seandainya tidak masuk dan tidak mengikuti kegiatan Support Group. Saya akhirnya kembali memperoleh nilai hidup seperti ketegaran dan kesabaran, setelah mengikuti konseling di situ.”

Sementara itu, ada korban KdRT lainnya (Mnh), yang menceritakan pula pengalamannya. “Kasus ini bermula dari perselingkuhan yang dilakukan berkali-kali oleh suami, bahkan sampai memiliki dua anak. Bila saya memberitahu, dia marah, sampai pernah membentur-benturkan kepala saya ke dinding.” Mnh juga mengeluhkan respon tetangganya waktu itu yang hanya diam atas peristiwa yang terjadi, dikarenakan takut ancaman suaminya.

Selama menikah, lanjut Mnh, hinaan, pemukulan dan pengusiran pernah dirasakan. Mnh merasa faktor suaminya yang memiliki kekuatan finansial yang lebih tinggi, menjadi penyebab suaminya semena-mena. “Bahkan dia tidak mengakui saya sebagai istri dan ibu yang telah merawat anak-anaknya.”

Lalu, atas dasar empati, maka ada saudara Mnh yang memberitahu tentang keberadaan dan peranan dari LRC-KJHAM. “Saya akhirnya minta bantuan hukum ke lsm, untuk menyelesaikan kasus tersebut,” ujar Mnh.

Selain bantuan hukum, Mnh juga mengikuti Support Group. Mnh mengaku hampir putus asa, namun akhirnya punya semangat lagi untuk hidup, setelah bergabung di kelompok penguat itu. “Support Group merupakan wadah perempuan korban untuk bertemu tiap bulannya, untuk saling berdiskusi, berempati, menolong serta saling menguatkan kondisi setiap anggotanya.”

Berdasarkan interpretasi pengalaman yang dialami kedua korban KdRT di atas, maka ada beberapa pembelajaran yang bisa diambil. Pertama, ketika faktor kekuatan finansial suami lebih tinggi, seharusnya ia tidak mensubordinatkan istrinya, dengan melakukan kekerasan, baik fisik maupun psikologis. Namun ingat, bahwa faktor tersebut tidak bisa digeneralisasi ke konteks pasangan yang lain, hanya bisa dianggap sebagai salah satu penyebab kasus KdRT.

Kedua, perspektif aparat penegak hukum seharusnya berpihak ke perempuan korban, dalam artian tidak menyalahkan korban dan mempercepat proses laporan mereka. Ketiga, adanya fasilitas Support Group (saat ini bernama Sekar Taji), yang bisa dimanfaatkan masyarakat, baik itu korban, pemerhati hingga tetangga dari korban. Khusus bagi kita yang tetangganya mengalami kekerasan, tolong bisa disampaikan ke dia terkait keberadaan Sekar Taji, sebab Support Group ini telah memberi bukti, berupa solusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *